Gelombang serangan dahsyat mengguncang Teheran, Iran, tak lama setelah tenggat waktu 48 jam dari Presiden AS Donald Trump berakhir. Amerika Serikat dan Israel melancarkan gempuran besar-besaran terhadap target infrastruktur Iran, menyusul ancaman balasan Teheran yang akan menargetkan pembangkit listrik Israel jika fasilitasnya diserang. Situasi di Timur Tengah kian memanas, memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik regional yang lebih luas.
Militer Israel mengonfirmasi pada Senin (WIB) bahwa mereka telah 'memulai gelombang serangan berskala luas' terhadap target infrastruktur di Teheran, ibu kota Iran. Serangan ini terjadi bersamaan dengan klaim dari Komandan Komando Pusat AS (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, yang menyebut Iran meluncurkan rudal dan drone dari area padat penduduk, mengindikasikan bahwa wilayah tersebut berpotensi menjadi sasaran.
Gempuran tak hanya terpusat di Teheran. Militer AS secara spesifik menargetkan fasilitas produksi mesin turbin di Provinsi Qom, Iran bagian utara-tengah, yang diduga kuat terkait dengan komponen drone dan pesawat milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Suhaib al-Asa, koresponden Al Jazeera di Teheran, melaporkan volume dan skala ledakan di ibu kota Iran 'belum pernah terjadi sebelumnya', terutama di wilayah timur kota. Sistem pertahanan udara Iran diaktifkan, menunjukkan respons terhadap drone AS-Israel yang melayang di atas area tersebut.
Dampak serangan meluas ke berbagai kota. Kantor berita Fars melaporkan satu anak tewas dan beberapa orang terluka akibat serangan di sebuah bangunan residensial di Khorramabad, barat Teheran. Sementara itu, sedikitnya enam orang tewas dalam serangan di sejumlah rumah di Tabriz. Majid Farshi, Direktur Jenderal Manajemen Krisis Provinsi Azerbaijan Timur Iran, membenarkan dua serangan mematikan di Tabriz.
Tohid Asadi dari Al Jazeera menambahkan laporan ledakan di banyak kota lain. 'Satu orang tewas setelah sebuah stasiun radio diserang di Bandar Abbas. Di Isfahan, Karaj, dan Ahvaz, suara ledakan dahsyat juga terdengar. Di Ahvaz, kami mendengar sebuah rumah sakit terdampak akibat ledakan ini,' ujarnya dari Teheran.
Palang Merah Bulan Sabit Merah Iran menyatakan lebih dari 80.000 unit sipil terdampak, beberapa di antaranya hancur total. Jumlah ini termasuk rumah sakit, sekolah, institusi akademik, dan fasilitas Bulan Sabit Merah sendiri. Kerusakan masif ini menyoroti dampak kemanusiaan yang parah dari konflik yang memanas.
Di sisi lain, serangan rudal Iran terus berlanjut di Israel sepanjang malam, dengan laporan serpihan berjatuhan di beberapa lokasi di Israel bagian selatan dan tengah. Sirene peringatan juga berbunyi di Israel utara, yang diyakini otoritas Israel sebagai serangan gabungan dari Hizbullah dan Iran.
Kekhawatiran utama di Israel adalah kemungkinan AS menghentikan perang terlalu cepat. Oleh karena itu, pejabat Israel terus mengirim pesan bahwa mereka akan melanjutkan operasi militer. Eskalasi ini memperdalam krisis di Timur Tengah, menyeret semakin banyak pihak ke dalam konflik berdarah dengan konsekuensi regional dan global yang tak terbayangkan.