Ukraina kembali bergejolak setelah Rusia melancarkan gelombang serangan besar-besaran, melibatkan puluhan rudal balistik dan jelajah serta ratusan drone. Target utama serangan semalam (Minggu) ini adalah infrastruktur energi vital Ukraina, meski laporan juga menyebut kerusakan pada bangunan tempat tinggal dan jalur kereta api.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, mengungkapkan bahwa Kyiv menghadapi setidaknya 50 rudal dan 297 drone dalam satu malam, di mana sebagian besar berhasil dicegat. Serangan terkuat dilaporkan terjadi di wilayah Kyiv, Odesa, dan Kharkiv, namun target juga meluas ke Dnipro, Kirovohrad, Mykolaiv, Poltava, dan Sumy. Akibatnya, setidaknya satu orang tewas di wilayah Kyiv, dan belasan lainnya terluka, termasuk empat anak-anak.
Zelenskyy menggarisbawahi pola serangan Rusia yang kian intens, menyebut dalam seminggu terakhir saja, Moskow telah melepaskan lebih dari 1.300 drone, 1.400 bom udara terpandu, dan 96 rudal. "Moskow terus berinvestasi pada serangan, bukan diplomasi," tegasnya, menyoroti penargetan sistem energi yang berulang. Di Odesa, misalnya, serangan drone memicu kebakaran pada fasilitas energi, meski untungnya tanpa korban jiwa atau luka di sana.
Serangan brutal ini bukan kejadian baru. Sejak perang Rusia-Ukraina dimulai hampir empat tahun lalu, penargetan fasilitas energi telah menjadi taktik Moskow, terutama di musim dingin yang keras. Tujuannya jelas: melumpuhkan pasokan listrik, pemanas, dan air, menyebabkan jutaan warga Ukraina menderita di tengah suhu beku di bawah nol derajat Celsius. Pekan lalu, serangan serupa terjadi bahkan saat negosiasi damai di Jenewa, menunjukkan bahwa Rusia tak gentar menggunakan kekuatan militer untuk mencapai tujuannya.
Sementara itu, di kota Lviv yang relatif aman di bagian barat, insiden terpisah terjadi. Sebuah ledakan di toko pusat perbelanjaan menewaskan seorang polwan dan melukai 25 orang. Pihak berwenang telah menangkap seorang wanita Ukraina yang diduga sebagai pelaku, dengan investigasi masih berjalan. Insiden ini menambah daftar panjang kekerasan yang terjadi di tengah konflik besar, namun tampaknya tidak terkait langsung dengan gelombang serangan rudal Rusia yang menargetkan infrastruktur.