Jakarta, Warkopku – Peta kekuasaan global sedang bergeser. Jika selama setengah abad terakhir segelintir negara demokrasi Barat kaya seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jepang yang duduk di G7 menjadi wasit ekonomi dunia, kini panggung mulai penuh. BRICS, blok negara-negara berkembang yang kini melebar, muncul sebagai penantang serius.
BRICS tidak lagi sekadar ‘klub alternatif’. Dengan populasi yang mencakup hampir setengah penduduk dunia serta cadangan energi dan bahan baku yang melimpah, blok ini menuntut suara yang lebih besar bagi Global South—negara-negara yang selama ini merasa hanya jadi penonton di panggung ekonomi global.
Di antara dua kutub ini, kekuatan ketiga justru mulai menggerakkan dinamika: negara-negara middle powers. Mereka adalah negara yang terlalu besar untuk diabaikan, tapi enggan terjebak dalam persaingan G7 vs BRICS. Indonesia, India, Brasil, Turki, hingga Arab Saudi masuk dalam kategori ini. Mereka memilih jalur pragmatis: bekerja sama dengan semua pihak tanpa harus memihak.
Dampak bagi Masyarakat: Pergeseran ini bukan sekadar drama geopolitik di meja perundingan. Bagi masyarakat Indonesia, persaingan ini bisa berarti dua hal: pertama, peluang pasar ekspor yang lebih luas karena negara-negara besar saling berebut pengaruh. Kedua, risiko fluktuasi harga komoditas karena ketidakpastian aliansi global. Yang jelas, era di mana satu blok mendikte aturan main ekonomi dunia perlahan berakhir.