Gejolak Timur Tengah memasuki babak baru, saat para menteri luar negeri dari Turki, Arab Saudi, dan Mesir berkumpul di Islamabad, Pakistan. Misi utama mereka? Mencari jalan keluar dari 'perang' yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel melawan Iran, yang kini sudah memasuki hari ke-30. Konflik ini tak hanya memanaskan kawasan, tapi juga memicu krisis energi global terparah sejak 1973.
Pertemuan tingkat tinggi ini, yang juga dihadiri Wakil Perdana Menteri Pakistan Ishaq Dar, menjadi sinyal kuat kekhawatiran regional terhadap dampak peperangan. Dari laporan Al Jazeera, Islamabad kini menjadi pusat diplomasi untuk mengakhiri konflik yang dipicu sejak 28 Februari lalu, di tengah negosiasi program nuklir Iran yang sebenarnya hampir mencapai kesepakatan.
Dalam upaya membangun fondasi perdamaian, Pakistan berinisiatif membentuk blok regional. Setelah panggilan telepon antara Dar dan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi, Iran menyetujui 'langkah membangun kepercayaan' dengan mengizinkan 20 kapal berbendera Pakistan melintasi Selat Hormuz secara bertahap. Ini penting, mengingat selat strategis tersebut adalah jalur 20 persen pasokan minyak dan gas dunia.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump telah memperpanjang batas waktu 10 hari bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz, sekaligus menawarkan proposal gencatan senjata 15 poin. Namun, Tehran menolaknya. Iran justru mengajukan syarat balik, termasuk penghentian agresi AS-Israel, tuntutan ganti rugi perang, dan jaminan keamanan dari serangan di masa depan. Iran menuduh AS dan Israel melakukan 'kejahatan keji' dengan menargetkan sekolah, rumah sakit, dan area pemukiman sipil.
Analisis: Konflik ini menempatkan Pakistan dalam posisi diplomatik yang sulit, mengingat kedekatan pertahanan dengan Arab Saudi di satu sisi, dan ikatan budaya serta perbatasan sepanjang 900 km dengan Iran di sisi lain. Upaya Pakistan membentuk blok regional ini berpotensi melibatkan negara-negara lain, termasuk Indonesia dan Malaysia, menunjukkan bahwa eskalasi di Timur Tengah memiliki implikasi global yang jauh lebih luas dari yang dibayangkan. Krisis energi yang timbul akibat 'cekikan' Iran di Selat Hormuz membuktikan betapa krusialnya stabilitas kawasan ini bagi perekonomian dunia.