Kemenangan tak terduga Luiz Inacio Lula da Silva dalam pemilihan presiden Brasil langsung memicu gejolak di pasar keuangan. Nilai tukar Real Brasil merosot tajam hingga 12 persen terhadap dolar AS dalam perdagangan spot, sementara indeks saham Bovespa futures anjlok hampir 15 persen pada Senin lalu.
Bursa saham Brasil bahkan sempat menghentikan perdagangan selama 30 menit setelah indeks Bovespa turun 10 persen dari penutupan sebelumnya. Mekanisme circuit breaker ini terpicu karena pasar sebelumnya optimis terhadap kemenangan kubu kanan yang diwakili Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Jair Bolsonaro, yang memimpin di putaran pertama.
Rachel Ziemba, peneliti senior di Center for a New American Security, menilai kepanikan pasar ini sebagai reaksi wajar. "Trader sedang menutup taruhan yang mengasumsikan kemenangan Bolsonaro dan kebijakan fiskal yang lebih ketat," ujarnya kepada Al Jazeera. Ia menambahkan bahwa penolakan Bolsonaro untuk mengakui hasil pemilu turut memperbesar ketidakpastian finansial, meski besarnya margin kemenangan Lula menunjukkan hasil tersebut akan bertahan.
Pasar berjangka suku bunga juga melonjak 3,1 persen setelah kemenangan Lula. Investor khawatir kebijakan Lula akan meningkatkan belanja domestik dan memicu kenaikan suku bunga. Saat ini, utang publik Brasil sudah melebihi 82 persen dari PDB, sementara program pensiun dan belanja wajib lainnya membatasi ruang fiskal pemerintah.
Tim Lula menargetkan surplus anggaran sekitar 1,3 persen dari PDB pada 2030 untuk menutup sebagian tagihan bunga dan mengurangi kebutuhan pinjaman baru. Namun, detail pemangkasan belanja yang dijanjikan masih belum jelas. Perhatian pasar kini beralih ke sosok menteri keuangan yang akan dipilih Lula, sebagai sinyal arah kebijakan fiskalnya ke depan.
Meski demikian, Ziemba mencatat bahwa Real Brasil masih berpotensi ditopang oleh pendapatan komoditas yang kuat. Sebelumnya, pada Jumat lalu, saham ditutup hampir 7 persen lebih tinggi dan Real menguat hampir 5 persen terhadap dolar AS sebelum hasil pemilu diumumkan.