Washington, DC – Sebuah nota kesepahaman (MoU) antara Amerika Serikat dan Iran menuai kontroversi tajam. Meskipun disambut sebagai langkah menghentikan perang, analis politik Partai Republik menilai kesepakatan ini ibarat 'kemenangan yang korosif'.
MoU 14 poin yang ditandatangani pemerintahan Trump pekan ini memang berhasil menghentikan baku tembak. Beberapa pencapaian nyata termasuk pembukaan kembali Selat Hormuz, pencabutan blokade laut, dan penghentian pemboman di semua pihak. Bagi Presiden Trump, ini adalah bukti keberhasilan strategi 'tekanan militer dulu, diplomasi kemudian'.
Namun, ada kelemahan fatal yang diabaikan banyak pihak. Kesepakatan ini justru mengecualikan sekutu utama AS di kawasan: Israel. Negosiasi dilakukan melalui mediator Pakistan, Jenewa, dan Versailles, tetapi tidak melibatkan Israel yang selama dua dekade menanggung beban tertinggi dalam menghadapi Iran.
"Israel adalah sekutu yang memasok intelijen, penargetan, dan pembenaran militer untuk serangan Februari lalu. Kini mereka diminta menerima dokumen yang tidak ikut mereka susun," tulis analis kebijakan luar negeri Partai Republik. Perlakuan ini dinilai bukan untuk mitra, melainkan untuk 'komplikasi'.
Masalah kedua adalah soal verifikasi. Pencairan aset Iran akan dilakukan 'seiring kemajuan negosiasi', sementara verifikasi baru dilakukan 60 hari ke depan dan bisa diperpanjang. Para negosiator berpengalaman tahu, Teheran cenderung menganggap bagian yang mengikat adalah pencairan dana, bukan verifikasi.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah dana rekonstruksi senilai 300 miliar dolar AS. Angka ini dianggap tidak masuk akal dari Gedung Putih mana pun, namun dibela dengan dalih teknis. Praktis, Iran mendapat keringanan sebelum benar-benar membuktikan itikad baiknya.
Analisis: Kesepakatan ini memang menghentikan perang, tetapi bisa menjadi bumerang. Tanpa keterlibatan Israel dan tanpa verifikasi ketat, Iran bisa menggunakan celah ini untuk memperkuat jaringan proksinya di Timur Tengah. Masyarakat global perlu mengawasi dengan ketat implementasi 60 hari ke depan.