Lonnie Ali, janda legenda tinju Muhammad Ali, menyerukan aksi 'Hari Kasih Sayang' (Day of Compassion) di peringatan 10 tahun wafatnya sang petinju. Seruan ini muncul di tengah meningkatnya polarisasi dan perpecahan di Amerika Serikat.
Dalam wawancara di Muhammad Ali Center, Louisville, Lonnie mengingatkan bahwa warisan Ali jauh melampaui gelar juara dunia atau medali Olimpiade. "Ia melampaui tinju ke setiap ruang yang bisa Anda bayangkan," kata Lonnie. Filosofi hidup Ali, 'Melayani orang lain adalah sewa yang kita bayar untuk tempat kita di Bumi', menjadi landasan kampanye ini.
Ali Center mendorong masyarakat global untuk memperingati 3 Juni 2026 dengan aksi sukarela dan kepedulian. Lonnie mengkritik keras kebijakan yang melemahkan Undang-Undang Hak Pilih 1965, dengan tegas menyatakan, "Anda tidak bisa memiliki perwakilan yang setara jika Anda menolak hak pilih seseorang." Ia juga menantang para pemimpin politik untuk "memimpin dengan kasih sayang".
Analisis: Seruan ini bukan sekadar nostalgia olahraga. Ini adalah kritik sosial yang tajam terhadap kondisi Amerika saat ini. Data dari Pew Research Center menunjukkan polarisasi politik di AS mencapai titik tertinggi dalam sejarah modern. Dengan menyandingkan warisan Aliāyang menolak wajib militer Perang Vietnam demi prinsipādengan isu hak pilih saat ini, Lonnie Ali secara cerdas menggunakan simbol global untuk menyadarkan publik. Dampaknya, 'Hari Kasih Sayang' berpotensi menjadi gerakan akar rumput yang mengingatkan bahwa kepedulian sosial adalah antidot bagi perpecahan.