Kebakaran hutan dan lahan yang tak kunjung padam di Indonesia telah memicu krisis kesehatan yang serius. Sejak awal tahun hingga pertengahan Oktober, lebih dari 277.000 warga tercatat menderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan batuk kronis. Yang paling mengkhawatirkan, lebih dari 62.000 korban adalah bayi dan balita di bawah usia lima tahun.
Data dari platform satelit Nusantara Atlas menunjukkan luas area yang terbakar telah mencapai 1,9 juta hektare—setara dengan luas negara Fiji atau hampir sebesar New Jersey, AS. Hanya dalam bulan September saja, satu juta hektare lahan dilalap api. Kebakaran ini sebagian besar terjadi di lahan gambut dan rawa yang menghasilkan asap tebal mengandung partikel mikro berbahaya dan karbon monoksida.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di Indonesia. Kabut asap toxic ini telah menyebar hingga ke Singapura, Malaysia, dan Filipina. Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah—salah satu wilayah terparah—langit berubah warna kuning kecokelatan dan sinar matahari tampak seperti gerhana. Warga mengeluhkan sesak napas, dan anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena sistem imun mereka yang belum sempurna.
Para ahli kesehatan memperingatkan bahwa partikel halus dalam asap dapat menembus paru-paru hingga masuk ke aliran darah, memicu peradangan, penyakit paru kronis, bahkan meningkatkan risiko kematian dini. Gas rumah kaca beracun juga terus dilepaskan ke atmosfer, memperparah krisis iklim global.
Pemerintah daerah menghadapi tantangan besar dalam menangani lonjakan pasien ISPA di fasilitas kesehatan yang terbatas. Sementara itu, masyarakat diminta mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker, meski perlindungan yang efektif seringkali sulit diakses oleh warga di daerah terdampak.