Kolombia kembali menjadi sorotan. Setelah puluhan tahun didera konflik bersenjata, kini giliran mantan prajurit Angkatan Darat Nasional buka-bukaan soal keterlibatan mereka dalam 'falsos positivos'. Istilah ini merujuk pada pembunuhan warga sipil tak berdosa yang kemudian disamarkan sebagai korban tempur, semata-mata untuk menggelembungkan angka musuh yang berhasil dilumpuhkan pemerintah.
Pengakuan pilu ini disampaikan langsung di hadapan keluarga para korban, menjadi bagian krusial dalam proses perdamaian yang rapuh pasca-konflik berkepanjangan lebih dari lima dekade. Meski perjanjian damai tahun 2016 secara resmi mengakhiri permusuhan antara negara dan pemberontak FARC-EP, mempertahankan perdamaian terbukti jauh lebih rumit daripada sekadar menandatangani kesepakatan.
Kisah-kisah pedih dan penderitaan keluarga korban terungkap dalam kerangka Special Jurisdiction for Peace (JEP), sebuah mekanisme keadilan yang dibentuk di bawah perjanjian damai antara pemerintah Kolombia dan FARC-EP. JEP mengedepankan model keadilan transisi dan restoratif yang berpusat pada korban, dengan jaminan penuh proses hukum yang adil. Mandat utamanya adalah menyelidiki, mengadili, dan menjatuhkan sanksi kepada mereka yang paling bertanggung jawab atas pelanggaran hak asasi manusia yang serius.
Sistem JEP menyediakan dua jalur: proses restoratif bagi mereka yang mengakui tanggung jawab, memberikan kebenaran penuh, serta berkontribusi pada reparasi dan jaminan tidak akan mengulangi perbuatan. Lalu, ada proses adversarial bagi mereka yang menolak. Hingga kini, lebih dari 17.000 individu telah hadir di hadapan JEP, termasuk mantan anggota FARC-EP, anggota angkatan bersenjata, dan pihak sipil ketiga. Pengadilan ini telah mengeluarkan dakwaan, menjatuhkan hukuman, dan bahkan menangguhkan penuntutan pidana bersyarat bagi mereka yang bukan pihak paling bertanggung jawab.
Pengakuan dan proses di JEP ini menjadi langkah penting untuk memulihkan kepercayaan masyarakat dan menyembuhkan luka sejarah. Ini adalah upaya nyata Kolombia untuk membangun perdamaian yang berkelanjutan, meski jalan yang ditempuh masih panjang dan penuh tantangan. Memastikan keadilan bagi korban dan mencegah terulangnya kekejaman masa lalu adalah kunci untuk masa depan Kolombia yang lebih damai dan stabil.