Puncak kekuasaan Kim Jong Un semakin tak tergoyahkan. Pemimpin Korea Utara itu baru saja terpilih kembali sebagai Sekretaris Jenderal Partai Buruh, memperpanjang dominasinya atas partai penguasa tunggal di negaranya yang sudah berlangsung 15 tahun. Keputusan ini diambil dalam kongres partai yang diadakan setiap lima tahun sekali, seperti dilaporkan media pemerintah KCNA.
Dalam pidatonya, Kim tidak hanya mengevaluasi kinerja lima tahun terakhir, tetapi juga membeberkan strategi dan target baru untuk periode lima tahun ke depan. Ia menyebut lima tahun terakhir sebagai āperiode kebanggaanā dalam menjalankan ācita-cita sosialis gaya kami sendiriā, meskipun mengakui adanya tantangan berat seperti sanksi internasional dan krisis kesehatan global.
Kim menekankan bahwa partainya kini menghadapi ātugas historis yang berat dan mendesakā untuk menggenjot pembangunan ekonomi serta meningkatkan standar hidup rakyat. Namun, di sisi lain, ia juga tetap menjadikan kekuatan militer dan senjata nuklir sebagai prioritas utama. Sebelum kongres, Kim bahkan memamerkan puluhan peluncur roket berkemampuan nuklir, dengan percaya diri menyatakan bahwa ātidak ada kekuatan yang bisa berharap perlindungan Tuhanā jika senjata itu digunakan.
Analisis:
Terpilihnya kembali Kim Jong Un semakin mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin absolut, memperkuat kontrol 'monolitik' yang telah diresmikan secara konstitusional pada 2019. Bagi masyarakat Korea Utara, janji peningkatan ekonomi dan standar hidup tentu menjadi harapan, terutama setelah bertahun-tahun menghadapi laporan kelangkaan pangan dan kesulitan hidup. Namun, janji ini kerap dibayangi oleh prioritas program senjata nuklir yang menguras sumber daya dan memicu sanksi internasional. Komitmen Kim untuk tetap mempertahankan kekuatan militer, bahkan dengan pamer senjata nuklir, mengirimkan pesan jelas kepada dunia: Korea Utara tidak akan melunak dalam program nuklirnya, terlepas dari fokus ekonomi yang ia gaungkan. Hal ini berpotensi menjaga ketegangan regional dan internasional tetap tinggi, bahkan di tengah narasi 'optimisme dan kepercayaan diri di masa depan' yang disampaikan Kim.