Konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan merenggut nyawa manusia, tetapi juga menimbulkan bencana ekologis yang mengerikan di Laut Hitam. Data terbaru mengungkap bahwa lebih dari 120.000 lumba-lumba dan porpoise (pesut) mati akibat dampak perang sejak invasi besar-besaran dimulai pada 2022. Angka ini setara dengan seperempat dari total populasi cetacea di perairan tersebut.
Menurut Ivan Rusev, peneliti utama dari Taman Nasional Tuzly Lagoons, kematian massal ini dipicu oleh kebisingan bawah air yang ekstrem. Peluncuran misil dari kapal perang dan penggunaan sonar militer merusak sistem ekolokasi lumba-lumba—alat navigasi utama mereka untuk mencari makan dan berkomunikasi. Akibatnya, banyak lumba-lumba yang kebingungan, kelaparan, dan terdampar. Banyak bangkai ditemukan dengan tanda jaring nelayan, sementara yang lain mati karena infeksi pernapasan akibat sistem imun yang melemah.
Selain kebisingan, pencemaran kimia memperparah situasi. Puluhan kapal perang dan tanker yang tenggelam atau rusak melepaskan limbah minyak, bahan bakar, hingga bahan peledak ke laut. Kondisi ini diperburuk oleh hancurnya Bendungan Kakhovka pada 2023 silam, yang melepaskan air tercemar logam berat dan pupuk ke aliran sungai hingga bermuara ke Laut Hitam. Ekosistem yang sudah rapuh—karena Laut Hitam memiliki kadar oksigen rendah di kedalaman tertentu—kini menghadapi tekanan ganda yang mengancam rantai makanan dari plankton hingga predator puncak.
Dampak bagi masyarakat pesisir juga signifikan. Nelayan di negara-negara seperti Bulgaria, Rumania, dan Turki melaporkan penurunan drastis hasil tangkapan ikan seperti belanak dan ikan biru. Selain karena pencemaran, aktivitas penangkapan ikan juga terhambat oleh ancaman ranjau laut yang hanyut ke perairan internasional. Para aktivis lingkungan mendesak adanya protokol internasional untuk melindungi biodiversitas Laut Hitam selama konflik berlangsung, mengingat laut ini adalah jalur migrasi penting bagi burung dan biota laut.