JAKARTA — Kontras yang memilukan terjadi di peringatan Hari Pangan Sedunia tahun ini. Di tengah lonjakan angka kelaparan global yang mencapai 645 juta jiwa, dunia justru membuang lebih dari satu miliar ton makanan setiap tahunnya. Data PBB menunjukkan, dari setiap lima piring makanan yang disajikan, satu di antaranya berakhir di tempat sampah.
Laporan State of Food Security and Nutrition in the World mencatat, angka kelaparan global memang menurun selama tiga tahun berturut-turut menjadi 7,8 persen pada 2025. Namun, jumlah ini masih jauh lebih tinggi dibandingkan masa sebelum pandemi COVID-19. Afrika menjadi wilayah paling terdampak dengan 309 juta jiwa mengalami kekurangan gizi, disusul Asia dan Amerika Latin.
Ironisnya, masalah ini bukan hanya soal distribusi, melainkan juga pemborosan masif. FAO mengungkapkan sekitar 13 persen pangan hilang di tahap panen hingga distribusi, dengan kerugian mencapai lebih dari 400 miliar dolar AS per tahun. Sementara itu, rumah tangga menjadi penyumbang sampah makanan terbesar (60 persen), diikuti restoran dan ritel.
Analisis: Bagi masyarakat Indonesia, fenomena ini menjadi cermin penting. Meski bukan negara dengan angka kelaparan ekstrem, budaya 'makan sisa' dan manajemen stok pangan rumah tangga perlu dibenahi. Penggunaan teknologi sederhana seperti meal planning dan penyimpanan makanan yang tepat bisa menjadi solusi nyata untuk mengurangi angka food waste yang berkontribusi pada krisis iklim dan ekonomi.