Senator sayap kanan Brasil, Flavio Bolsonaro, mendadak terbang ke Miami, Amerika Serikat, bersama istri dan dua putrinya. Kepergiannya ini terjadi hanya beberapa hari setelah ia kalah dalam putaran kedua pemilihan presiden Brasil melawan petahana Luiz Inacio Lula da Silva.
Kekhawatiran muncul karena Mahkamah Agung Brasil, melalui Hakim Alexandre de Moraes, telah memerintahkan Flavio untuk menyerahkan paspor biasa dan diplomatiknya. Ia dinilai berisiko melarikan diri terkait penyelidikan pencucian uang dan penggelapan mata uang yang melibatkan dirinya dan rekannya, Willer Tomaz.
Perjalanan Flavio terbilang kilat. Otoritas imigrasi Argentina melaporkan bahwa Flavio dan keluarganya masuk melalui jalur darat pada Selasa malam, lalu kurang dari satu jam kemudian naik pesawat pribadi menuju Ekuador. Dari sana, mereka terbang ke Miami dan mendarat di Bandara Opa-Locka pada Rabu pagi. Departemen Luar Negeri AS dikonfirmasi telah mengeluarkan visa untuk mereka.
Kabar ini memicu reaksi keras dari publik Brasil. Seorang warga Sao Paulo, Cristiana Cunha, menyebut Flavio bertindak seperti pengecut yang tak berani menghadapi konsekuensi. Sementara itu, analis politik Paulo Roberto de Souza menilai kepergian Flavio bisa memicu perebutan kekuasaan di kubu konservatif, karena keluarganya mungkin akan tersingkir. Kekalahan Flavio juga dinilai sebagai pukulan telak bagi dinasti politik Bolsonaro, setelah ayahnya, Jair Bolsonaro, juga kalah pada 2022.