Kabar baik datang dari Kenya. Pemerintah setempat memastikan bahwa pasien yang sebelumnya diduga terinfeksi virus Ebola ternyata negatif berdasarkan hasil uji laboratorium awal. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Gubernur Wajir County, wilayah tempat pasien tersebut dirawat.
Pasien yang dimaksud adalah seorang pria berusia 20 tahun. Ia memiliki riwayat perjalanan dari Republik Demokratik Kongo (DRC), transit melalui Uganda, lalu tiba di Kenya. Jalur perjalanan ini identik dengan pasien pertama Kenya yang sebelumnya dinyatakan positif Ebola dan meninggal dunia di Nairobi.
Sebagai informasi, Kenya baru pertama kali melaporkan kasus Ebola pada Selasa lalu. Wabah ini bermula dari DRC yang resmi mendeklarasikan status outbreak pada Mei. Virus mematikan ini telah menewaskan sedikitnya 4.205 orang dari lebih dari 8.700 kasus yang dilaporkan. Strain virus yang menyebar kali ini dikenal sebagai Bundibugyo virus (BDBV), di mana belum ada vaksin yang tersedia untuk menangkalnya.
Meski hasil lab pasien kedua negatif, kasus ini menyoroti celah dalam sistem pengawasan perbatasan Kenya. Pasien pertama yang meninggal diketahui mampu melewati berbagai pemeriksaan suhu di bandara. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pun turun tangan membantu otoritas Kenya memperketat pemeriksaan pelancong dan melacak kontak erat guna mencegah penyebaran lebih luas.