Kuba tengah menghadapi krisis energi terparah dalam sejarah modernnya. Pemadaman listrik bisa berlangsung lebih dari 12 jam sehari, memicu kesenjangan sosial baru di masyarakat. Warga yang memiliki tabungan, bisnis sukses, atau kiriman dana dari luar negeri berbondong-bondong membeli panel surya dan baterai litium. Sebaliknya, sebagian besar warga kelas pekerja beralih ke tungku arang untuk memasak dan kebutuhan sehari-hari.
Di sebuah toko elektronik di Havana, Camilo Merejon, sopir taksi berusia 61 tahun, mengamati harga sistem tenaga surya. Sistem 3 kilowatt dibanderol USD 3.678, sementara yang 10 kilowatt mencapai lebih dari USD 10.000. 'Untuk kebutuhan dasar, mungkin 3 kilowatt cukup,' katanya. 'Teman-teman Italia saya ingin membantu membelikan, tapi ini sangat mahal.' Saat ia berkunjung, lingkungan tempat tinggalnya di Regla sudah 26 jam tanpa listrik.
Sementara itu, di pinggir jalan berdebu di Cotorro, Amora Rodriguez menjual arang setiap hari. Permintaan melonjak drastis. Satu karung arang seharga 2.500 peso Kuba—sekitar USD 4 di kurs informal, atau hampir setengah gaji bulanan rata-rata. 'Semakin banyak orang membeli karena pemadaman. Semakin sulit,' ujarnya.
Krisis ini dipicu oleh ketergantungan Kuba pada minyak Venezuela yang kini terputus, ditambah jaringan listrik tua yang minim investasi. Akibatnya, muncul dua realitas berbeda: warga kaya berinvestasi energi bersih, sementara warga miskin kembali ke metode tradisional yang penuh asap dan tidak efisien.