Jakarta - Dunia internasional menyambut positif kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran yang akan membuka kembali Selat Hormuz. Mantan Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa jalur perairan strategis itu akan beroperasi normal mulai Jumat pekan ini, setelah kedua negara menandatangani perjanjian.
Selat Hormuz selama ini menjadi titik rawan konflik karena menangani sepertiga pasokan minyak dunia lewat kapal tanker. Ketegangan yang memuncak dalam beberapa pekan terakhir sempat membuat harga minyak melonjak dan rantai pasok global terganggu.
Meski begitu, warga Lebanon justru menyambut kabar ini dengan skeptis. Banyak yang menilai perjanjian serupa sudah sering terjadi di masa lalu, namun selalu berakhir dengan pelanggaran. 'Kami sudah biasa dengar janji manis, tapi kenyataannya tetap perang,' ujar seorang pengamat politik Beirut kepada Al Jazeera.
Analisis Dampak: Kesepakatan ini diprediksi akan menstabilkan harga minyak mentah dunia dalam waktu dekat. Negara-negara pengimpor minyak seperti Indonesia dan India bisa bernapas lega karena biaya energi tidak akan melonjak drastis. Namun, jika sejarah mencatat, gencatan senjata AS-Iran sering rapuh. Investor tetap harus waspada terhadap potensi eskalasi baru di kawasan Teluk.