GAYA BUSANA JADI SENJATA POLITIK DI PEMILU AS - Berita Dunia
← Kembali

GAYA BUSANA JADI SENJATA POLITIK DI PEMILU AS

Foto Berita

Pemilihan umum sela (midterm) Amerika Serikat bukan cuma soal debat kebijakan. Para kandidat kini berlomba menarik simpati lewat gaya berpakaian. Penampilan mereka dianggap cerminan keaslian dan kedekatan dengan rakyat.

Stylist selebriti Joe Zee menilai politikus sekarang punya dua tuntutan sekaligus: terlihat kompeten memegang jabatan, tapi juga harus tampak menyatu dengan konstituennya. Dari Alaska sampai Texas, gaya kampanye mereka pun beragam.

Marie Gluesenkamp Perez, kandidat Demokrat dari Distrik Kongres ke-3 Washington, tampil santai dengan jaket kerja, kemeja flanel, jeli, dan alas kaki praktis. Mantan pemilik bengkel mobil ini memang mengusung isu dukungan bagi usaha kecil dan keluarga pekerja. Pengamat menilai gayanya sangat pas dengan citra wilayah Pasifik Barat Laut yang identik dengan alam bebas, sekaligus mengirim pesan pembela kelas pekerja.

Di Alaska, Mary Peltola yang maju ke Senat juga memakai pendekatan serupa. Ia sempat jadi sorotan saat mengenakan sepatu bot tradisional suku Yup'ik ketika dilantik sebagai anggota kongres tahun 2022. Selama kampanye, ia memakai jaket flanel, jaket puff, dan detail bernuansa adat untuk mengingatkan pemilih bahwa dirinya benar-benar orang Alaska asli, sejalan dengan slogan 'ikan, keluarga, dan kebebasan'.

Sementara itu, kandidat Senat dari Partai Republik asal Iowa, Ashley Hinson, memilih citra yang lebih berani dan patriotik. Gayanya rapi tapi menyelipkan sentuhan nostalgia seperti denim dan bandana. Pada pesta pemilihan primer Juni lalu, ia memakai sepatu hak tinggi berhias bendera Amerika yang ditaburi permata. Gaya ini mengingatkan pada penampilan pendukung Trump di berbagai reli.

Analisis singkat: Fenomena ini menunjukkan bahwa politik identitas dan citra visual makin menentukan elektabilitas. Pemilih tidak hanya menilai rekam jejak, tapi juga 'bahasa tubuh' dan simbol yang dipakai kandidat. Di era media sosial, satu potret gaya busana bisa lebih efektif menyampaikan pesan daripada pidato panjang. Dampaknya bagi masyarakat, publik diajak membaca pesan politik lewat simbol sehari-hari, sekaligus menjadi alarm bahwa kemasan bisa jadi lebih menonjol daripada substansi kebijakan itu sendiri.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook