PEREBUTAN KURSI SENAT OHIO HABISKAN RP7 TRILIUN - Berita Dunia
← Kembali

PEREBUTAN KURSI SENAT OHIO HABISKAN RP7 TRILIUN

Foto Berita

Perebutan satu kursi Senat Amerika Serikat di Negara Bagian Ohio berubah menjadi salah satu kontestasi politik paling mahal dalam sejarah. Lebih dari 450 juta dolar AS atau sekitar Rp7 triliun habis untuk membiayai kampanye ini, dengan belanja iklan saja menembus 500 juta dolar AS. Angka itu menjadikannya sebagai pertarungan senat termahal kedua pada siklus pemilu tengah periode kali ini, sekaligus masuk 10 besar pemilihan non-presiden termahal sepanjang sejarah Negeri Paman Sam.

Hasilnya, kandidat Partai Demokrat Sherrod Brown berhasil kembali menduduki kursi Senat setelah mengalahkan petahana dari Partai Republik, Jon Husted. Kemenangan ini menjadi pukulan telak bagi Republik yang berambisi mempertahankan kursi tersebut. Brown sendiri sebelumnya tersingkir dari Senat dua tahun lalu, dan kini harus menghadapi lawan yang mendapat dukungan finansial besar, termasuk puluhan juta dolar dari perusahaan teknologi AS yang berupaya menggagalkannya.

Husted merupakan sekutu kuat Presiden Donald Trump. Ia ditunjuk mengisi kursi tersebut pada awal 2025 untuk menggantikan JD Vance yang naik menjadi Wakil Presiden. Selama menjabat, Husted setia mendukung berbagai kebijakan periode kedua Trump, mulai dari pemotongan pajak, kebijakan tarif, hingga perang melawan Iran. Kursi Ohio menjadi kunci penentu kendali Partai Republik di Senat, mengingat kedua kursi negara bagian itu saat ini dikuasai Republik.

Isu biaya hidup menjadi perhatian utama di kawasan Midwest, wilayah yang menaungi kota-kota industri dan pedesaan yang tengah terpuruk. Brown memanfaatkan kedekatannya dengan serikat pekerja dan komunitas kelas pekerja sebagai senjata utama untuk merebut kembali kursi tersebut. Ia akan menjalani sisa masa jabatan Vance hingga Januari 2029.

Dari sisi dampak, kemenangan Brown memberi angin segar bagi kelompok buruh dan serikat pekerja yang selama ini merasa terpinggirkan oleh kebijakan ekonomi berpihak pada korporasi. Namun, besarnya biaya kampanye juga menjadi cermin mengkhawatirkan bagi demokrasi, di mana kekuatan modal dari perusahaan teknologi dan donatur besar nyaris menentukan hasil pemilu. Masyarakat perlu mencermati apakah kemenangan ini benar-benar membawa perubahan nyata bagi daya beli dan lapangan kerja, atau sekadar pergantian wajah di kursi kekuasaan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook