Gelombang protes besar mengguncang Yaman, menyuarakan kemarahan terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Timur Tengah. Situasi makin memanas setelah kelompok Houthi secara terbuka menyatakan siap mengambil tindakan militer.
Ribuan warga Yaman turun ke jalan menyuarakan dukungan kuat untuk Iran, Palestina, dan Lebanon. Aksi ini merupakan respons langsung terhadap agresi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel di wilayah tersebut. Bersamaan dengan itu, perwakilan kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar Yaman, menegaskan kesiapan mereka untuk berintervensi secara militer.
Pernyataan ini bukan isapan jempol, mengingat rekam jejak Houthi dalam melancarkan serangan terhadap target maritim di Laut Merah, yang diklaim sebagai bentuk solidaritas terhadap Palestina. Situasi ini berpotensi besar memperparah eskalasi konflik di Timur Tengah. Yaman, yang sudah lama dilanda perang saudara, kini semakin terseret dalam pusaran ketegangan regional yang lebih luas.
Ancaman intervensi Houthi bisa memicu respons balasan dari AS dan sekutunya, memperpanjang daftar konflik di Laut Merah dan sekitarnya, yang selama ini telah mengganggu jalur pelayaran global. Kondisi ini juga menunjukkan bagaimana Yaman menjadi salah satu arena proxy war di mana kekuatan regional dan global saling beradu pengaruh, dengan Iran di belakang Houthi dan AS-Israel di sisi lain. Ketegangan ini jelas meningkatkan risiko keamanan dan stabilitas di seluruh wilayah, tidak hanya bagi negara-negara yang terlibat langsung, tetapi juga bagi perdagangan internasional.