Bursa saham di kawasan Asia Pasifik berjatuhan pada Selasa ini, mencatat kerugian besar akibat kekhawatiran meluasnya konflik di Timur Tengah. Para investor panik merespons eskalasi serangan militer di wilayah tersebut, yang memicu lonjakan harga energi dan ancaman terhadap pasokan global. Padahal, sehari sebelumnya Wall Street di Amerika Serikat cenderung mengabaikan risiko tersebut.
Indeks-indeks acuan di Jepang, Korea Selatan, Australia, hingga Tiongkok semuanya tergelincir tajam. Indeks KOSPI Korea Selatan, yang sebelumnya menjadi salah satu yang berkinerja terbaik tahun ini, mengalami kerugian terbesar dengan anjlok sekitar 6,5% pada perdagangan sore. Disusul Nikkei 225 Jepang yang turun 3%, sementara ASX 200 Australia kehilangan sekitar 1,5% nilainya. Di Tiongkok, SSE Composite Index sempat turun 1,3% sebelum berhasil memulihkan sebagian kerugiannya menjelang penutupan pasar.
Sektor penerbangan menjadi salah satu yang paling terpukul. Maskapai-maskapai yang terpaksa membatalkan ribuan penerbangan ke Timur Tengah akibat konflik ini melihat nilai sahamnya terjun bebas. Korean Air anjlok lebih dari 9%, dan Japan Airlines merosot sekitar 6%.
Kepanikan pasar Asia ini datang setelah harga minyak mentah melonjak signifikan, hingga 13% pada Senin, pasca ancaman Iran untuk menutup Selat Hormuz, jalur vital bagi pengiriman minyak global. Meskipun sempat mereda semalaman, harga minyak patokan West Texas Intermediate dan Brent North Sea Crude masih menunjukkan kenaikan. Lebih lanjut, harga gas di Eropa melesat hingga 50% setelah perusahaan energi milik negara Qatar, QatarEnergy, mengumumkan penghentian produksi di tengah serangan Iran di wilayah tersebut.
Analisis menunjukkan bahwa meskipun pasar AS sempat 'masa bodoh' terhadap risiko ekonomi yang meningkat ini, reaksi keras di Asia Pacific mengindikasikan tingkat keparahan kekhawatiran global. Bagi masyarakat luas, dampak langsungnya adalah potensi lonjakan biaya transportasi dan listrik akibat kenaikan harga minyak dan gas, yang pada gilirannya bisa memicu inflasi dan menekan daya beli. Situasi geopolitik yang memanas di Timur Tengah kini benar-benar menjadi penentu stabilitas ekonomi global dan, pada akhirnya, dompet kita semua.