SELAT HORMUZ TERKUNCI, HARGA MINYAK DUNIA MAKIN GILA? - Berita Dunia
← Kembali

SELAT HORMUZ TERKUNCI, HARGA MINYAK DUNIA MAKIN GILA?

Foto Berita

Situasi konflik di Timur Tengah kian memanas, dan dampaknya langsung terasa di pasar minyak global. Sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada 28 Februari lalu, kekhawatiran akan lonjakan harga minyak telah menjadi kenyataan. Para analis pasar memprediksi harga minyak bisa tembus $150, bahkan $200 per barel, dari yang semula diperkirakan "hanya" di atas $100.

Pemicu utamanya adalah penutupan Selat Hormuz secara efektif oleh Iran. Jalur laut ini sangat krusial, menyalurkan sekitar seperlima pasokan minyak dunia saat situasi normal. Setelah serangan Israel ke ladang gas South Pars Iran pada 18 Maret, Iran membalas dengan menyerang fasilitas minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, serta Uni Emirat Arab, dan tak lama kemudian menyatakan Selat Hormuz ditutup.

Akibatnya, lalu lintas kapal pengangkut minyak praktis berhenti. Meski Presiden AS Donald Trump sudah berusaha menggalang dukungan internasional untuk konvoi angkatan laut agar selat dibuka, upaya tersebut belum membuahkan hasil. Kini, hanya segelintir kapal berbendera India, Pakistan, Turki, dan Tiongkok yang diizinkan melintas setelah negosiasi dengan Iran.

Meski negara-negara dunia berkomitmen melepaskan 400 juta barel cadangan minyak darurat, angka ini jauh dari cukup untuk menutupi defisit harian sekitar 10 juta barel akibat terhambatnya pengiriman via Hormuz. Analis dari Vanda Insights, OCBC Group Research, dan Wood Mackenzie kompak melihat potensi harga Brent tembus $150 dalam waktu dekat, dan $200 bukan hal mustahil di masa mendatang jika penutupan berlanjut. Bahkan, juru bicara militer Iran sendiri telah memperingatkan dunia untuk "bersiap" menghadapi lonjakan harga $200.

Bagi masyarakat Indonesia, kenaikan harga minyak global ini tentu bukan kabar baik. Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri berpotensi melambung, memicu efek domino pada kenaikan harga barang dan jasa lainnya. Ini bisa mengikis daya beli masyarakat dan menekan APBN yang harus menanggung subsidi BBM. Kondisi ini menuntut kewaspadaan pemerintah dan masyarakat untuk mengantisipasi potensi inflasi dan gejolak ekonomi yang mungkin terjadi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook