Washington, DC - Dua anggota Kongres Amerika Serikat dari kubu yang berseberangan, Demokrat Ro Khanna dan Republik Thomas Massie, bersatu untuk menggagalkan pasal kontroversial dalam RUU Anggaran Pertahanan AS (NDAA) yang dinilai terlalu memihak Israel.
Pasal yang disebut Section 224 ini dianggap sebagai upaya untuk menyembunyikan bantuan militer ke Israel dengan menyamarkannya sebagai 'kerja sama teknologi'. Pasal itu akan menunjuk seorang 'eksekutif agen' khusus yang bertugas menyinkronkan riset, pengembangan, dan uji coba teknologi militer antara Pentagon dan militer Israel.
Khanna dan Massie menilai langkah ini berbahaya. Massie dengan tegas menyatakan, 'Kita adalah negara berdaulat,' menekankan bahwa AS tidak boleh terikat terlalu dalam dengan agenda militer negara lain. Khanna, dari sisi lain, menyebut bahwa pasal ini akan mengurangi transparansi anggaran pertahanan AS.
Langkah ini muncul di tengah perubahan sikap publik Amerika. Jajak pendapat terbaru dari The New York Times dan Siena College menunjukkan 57 persen pemilih AS kini menentang pengiriman bantuan militer tambahan ke Israel. Ini menjadi sinyal kuat bahwa dukungan tanpa syarat untuk Israel mulai goyah di mata rakyat AS.
Aliansi Khanna-Massie memang bukan yang pertama. Sebelumnya, mereka juga bekerja sama dalam kampanye membuka dokumen rahasia terkait kasus Jeffrey Epstein. Kini, mereka kembali menjadi poros perlawanan terhadap kebijakan luar negeri yang dianggap terlalu agresif.
Analisis: Jika pasal ini gagal, ini bisa menjadi preseden baru di Kongres AS. Artinya, lobi pro-Israel tidak lagi sekuat dulu. Dampaknya bagi dunia? Bisa jadi AS akan lebih selektif dalam mengucurkan dana dan teknologi militernya ke Timur Tengah, yang berpotensi mengubah peta konflik di kawasan tersebut.