Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali membuat pernyataan kontroversial yang bertolak belakang dengan pandangan internal pemerintahannya sendiri terkait program nuklir Iran. Dalam pidato State of the Union, Trump menegaskan bahwa AS telah "melenyapkan" program nuklir Iran tahun lalu. Namun, pernyataan ini langsung menuai sorotan karena berbanding terbalik dengan klaim utusan khusus AS, Steve Witkoff, yang sebelumnya menyatakan Iran kini "tinggal satu minggu lagi" untuk bisa memproduksi bom nuklir.
Kontradiksi mencolok antara dua pejabat tinggi ini tentu saja memicu pertanyaan besar tentang konsistensi informasi intelijen dan kebijakan luar negeri AS terhadap Iran. Perbedaan pandangan seperti ini bukan hanya menciptakan kebingungan di mata publik global, tetapi juga dapat merusak kredibilitas pemerintahan AS di kancah internasional. Selain itu, kondisi ini berpotensi meningkatkan ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dan bisa memengaruhi stabilitas politik serta pasar global yang sensitif terhadap isu geopolitik. Publik menanti kejelasan dari Washington terkait status sebenarnya program nuklir Teheran.