Washington, D.C. – Suasana panas mewarnai pertemuan meja bundar di Pentagon. Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Pete Hegseth, melontarkan kritik pedas kepada negara-negara sekutu dalam aliansi NATO. Ia menuding mereka gagal memenuhi kewajiban anggaran pertahanan dan bahkan menghalangi akses pangkalan militer AS di Eropa untuk operasi militer melawan Iran.
Dalam pernyataan resminya, Hegseth menegaskan bahwa situasi ini tidak bisa ditoleransi. Ia menyebut bahwa sekutu NATO selama ini terlalu bergantung pada kekuatan militer AS, namun ogah memberikan imbal balik strategis yang diperlukan. “Kami membayar mahal untuk keamanan Eropa, tapi ketika kami butuh akses pangkalan untuk melindungi kepentingan global, pintu justru tertutup,” ujarnya dengan nada frustrasi.
Kritik ini bukan sekadar omongan belaka. Hegseth langsung mengumumkan akan ada evaluasi besar-besaran terhadap postur militer AS di Eropa. Langkah ini memicu spekulasi bahwa Washington mungkin akan mengurangi jumlah pasukannya di Benua Biru, sebuah langkah yang bisa mengubah peta geopolitik global secara drastis.
Analisis Dampak: Jika AS benar-benar menarik pasukan dari Eropa, ini bisa menjadi kado pahit bagi negara-negara NATO yang selama ini merasa aman di bawah payung militer AS. Rusia bisa melihat ini sebagai celah untuk memperluas pengaruhnya. Sementara itu, Iran—yang menjadi sasaran utama kritik Hegseth—justru bisa bernafas lega karena tekanan militer AS dari barat berkurang. Di sisi lain, hubungan transatlantik yang sudah rapuh sejak era Trump kini kembali diuji. Alih-alih bersatu, NATO justru terlihat semakin terpecah belah di saat konflik global sedang memanas.