Khartoum, Sudan — Situasi kemanusiaan di Sudan terus memburuk dan kini menjadi yang terburuk di dunia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat lebih dari 33 juta orang membutuhkan bantuan darurat. Amerika Serikat bersama 30 negara Barat lainnya melayangkan peringatan keras soal memburuknya keamanan pangan yang mengancam terjadinya kelaparan massal.
Dalam pernyataan bersama yang dirilis Departemen Luar Negeri AS, Senin lalu, negara-negara itu menegaskan bahwa konflik bersenjata menjadi pemicu utama krisis pangan. Infrastruktur vital hancur dan produksi makanan terganggu. Data terbaru menyebutkan 19,5 juta orang atau 41 persen populasi Sudan mengalami kerawanan pangan akut tingkat tinggi, dengan lima juta di antaranya berada di fase darurat.
Yusuf Roble, Direktur Regional Islamic Relief untuk Afrika Timur, menggambarkan kondisi di lapangan sangat memprihatinkan. Warga yang kembali ke Omdurman hanya menemukan rumah hancur atau habis dijarah. "Hampir tidak ada yang bisa dimakan," ujarnya kepada BBC. Ia juga menyoroti nasib seorang ibu dengan tujuh anak yang suaminya hilang sejak tiga setengah tahun lalu—sang pencari nafkah tunggal keluarga itu.
Perang saudara yang meletus April 2023 antara Angkatan Bersenjata Sudan dan Pasukan Pendukung Cepat (RSF) telah memaksa 14 juta orang mengungsi. Kondisi diperparah oleh penghambatan bantuan secara sistematis serta dampak El Nino yang memicu kekeringan di lebih dari separuh wilayah Sudan. Tanpa tindakan cepat, jumlah anak dengan malnutrisi akut parah diprediksi melampaui 825.000 jiwa.
Pernyataan bersama itu ditandatangani Uni Eropa, Inggris, Kanada, Swiss, Norwegia, dan AS. Mereka mendesak kedua pihak yang bertikai untuk membuka akses bantuan kemanusiaan secara penuh, aman, dan tanpa hambatan. Hingga September, pendanaan untuk rencana kemanusiaan Sudan 2026 baru terpenuhi 40 persen.