Tel Aviv bergejolak pada Sabtu akhir pekan kemarin. Ratusan warga nekat turun ke jalan menyuarakan protes keras menentang operasi militer yang dilancarkan Israel bersama Amerika Serikat terhadap Iran. Bukannya didengar, aksi anti-perang ini justru berujung ricuh saat aparat kepolisian membubarkan paksa kerumunan. Akibatnya, belasan demonstran harus digelandang ke kantor polisi, ditahan karena melanggar aturan pembatasan berkumpul yang berlaku selama masa perang.
Insiden ini menyoroti bagaimana gejolak internal masyarakat Israel kian memanas di tengah konflik yang sudah memasuki bulan kedua. Demonstrasi tersebut menjadi bentuk perlawanan warga terhadap kebijakan pemerintah Israel dalam menghadapi Iran, yang memicu kekhawatiran dan penolakan dari sebagian masyarakat. Saat massa mulai berkumpul di pusat kota Tel Aviv, aparat keamanan langsung bertindak tegas. Polisi menyatakan pembubaran dan penangkapan dilakukan untuk menegakkan aturan yang melarang kerumunan besar selama periode konflik. Meski begitu, banyak pihak melihat kejadian ini sebagai bukti nyata bahwa tidak semua warga Israel mendukung penuh langkah-langkah militer yang diambil pemerintah, menciptakan dinamika politik dan sosial yang rumit di tengah situasi perang.