Insiden nahas kembali menimpa jaringan kereta cepat Spanyol. Sebuah kereta menabrak bagian belakang kereta lain di Provinsi Toledo, menewaskan 68 orang dan melukai puluhan lainnya. Ini menjadi kecelakian fatal kedua di tahun yang sama dengan moda transportasi yang sama.
Tim penyelamat yang terdiri dari petugas darurat, anjing pelacak, dan alat berat berupa crane masih bekerja keras di lokasi kejadian pada Kamis pagi. Fokus utama mereka adalah memastikan tidak ada korban yang masih terjebak di dalam gerbong yang ringsek di lereng berbatu. Juru bicara pemerintah daerah Castilla-La Mancha, Esther Padilla, menegaskan bahwa proses evakuasi dilakukan dengan sangat hati-hati karena kekhawatiran akan adanya korban tambahan.
Otoritas rumah sakit melaporkan sebanyak 53 korban masih menjalani perawatan intensif, dengan 15 orang di antaranya dalam kondisi kritis. Pemerintah Spanyol telah mengumumkan masa berkabung nasional selama tiga hari untuk menghormati para korban.
Menteri Transportasi Oscar Puente mengungkapkan bahwa insiden ini bermula dari kegagalan sistem sinyal yang membuat beberapa kereta berhenti otomatis. Namun, dugaan awal menyebutkan bahwa kereta milik operator negara Renfe kemudian diizinkan melaju dengan kecepatan normal, meskipun ada kereta lain milik Iryo yang sedang berhenti di jalur yang sama. Perdana Menteri Pedro Sanchez berjanji akan menyelidiki tuntas penyebab kecelakaan dan melakukan perbaikan sistem demi membangun kembali kepercayaan publik terhadap keselamatan kereta cepat.
Dampak dari kecelakaan ini memicu kemarahan serikat pekerja kereta api (SEMAF). Mereka menilai insiden ini sebagai bukti lemahnya standar keselamatan dan struktur manajemen perkeretaapian. Alih-alih menunda, para masinis tetap melanjutkan aksi mogok kerja yang telah direncanakan sebelumnya untuk menuntut perbaikan keselamatan yang lebih baik. Masyarakat kini dihadapkan pada pertanyaan besar mengenai standar keamanan transportasi publik yang selama ini menjadi kebanggaan Spanyol.