Pemilih di Brasil kembali menuju bilik suara untuk putaran kedua pemilihan presiden pada Minggu (25/10/2026), setelah putaran pertama pada 4 Oktober lalu tidak menghasilkan pemenang mayoritas. Senator Flavio Bolsonaro mengejutkan banyak pihak dengan meraih 47 persen suara, unggul tipis atas Presiden petahana Luiz Inacio Lula da Silva yang memperoleh sedikit di atas 45 persen.
Meski tertinggal, Lula kini gencar menggalang dukungan menjelang putaran final. Pertarungan ini menjadi penentu arah politik Brasilāapakah negara terbesar di Amerika Latin itu akan bergabung dengan gelombang kanan jauh yang sedang melanda kawasan, atau tetap menjadi benteng terakhir kubu kiri.
Kemenangan Bolsonaro di putaran pertama turut mendongkrak perolehan kursi kandidat-kandidat kanan di parlemen. Nama besar di balik fenomena ini tak lepas dari sosok Jair Bolsonaro, ayah Flavio, yang kini menjalani hukuman 27 tahun penjara kasus percobaan kudeta setelah kalah dari Lula pada 2022.
Di sisi lain, Lula yang kini berusia 80 tahun sedang mengejar masa jabatan keempatnya. Program sosial dan keberhasilannya menekan angka pengangguran menjadi modal utama kampanye, meski polarisasi politik yang tajam disebut-sebut menghambat reformasi besar di pemerintahan ketiganya.
Analisis Dampak: Hasil putaran kedua ini akan menjadi sinyal penting bagi geopolitik Amerika Latin. Jika Bolsonaro menang, Brasil berpotensi mengubah arah kebijakan luar negeriādari poros negara berkembang non-Barat yang digagas Lula, menuju pendekatan yang lebih dekat dengan Amerika Serikat. Bagi masyarakat Brasil sendiri, pertarungan ini bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi presiden, melainkan soal arah kebijakan ekonomi, keamanan, dan masa depan demokrasi negara itu setelah bertahun-tahun terbelah.