Serangan udara Rusia menghantam sebuah pusat distribusi bantuan kemanusiaan di Desa Komyshuvakha, wilayah Zaporizhzhia, Ukraina selatan. Sedikitnya 24 orang dilaporkan tewas dan lima lainnya luka-luka akibat gempuran bom udara berbobot 3.000 kilogram tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menyebut insiden ini sebagai tindakan yang 'sangat mengerikan'. Ia mengungkapkan bahwa serangan terjadi dua tahap: pertama menghantam sekolah lokal yang digunakan untuk kebutuhan kemanusiaan, lalu serangan kedua menyasar tempat warga berlindung. Hingga kini, tim penyelamat masih berjibaku mencari korban di bawah reruntuhan, dan jumlah korban diperkirakan masih bisa bertambah.
Kepala wilayah Zaporizhzhia, Mykhailo Semikin, menyatakan bahwa operasi penyelamatan sempat terhenti beberapa kali karena ancaman serangan drone Rusia di area tersebut. Sementara itu, pihak militer Rusia belum memberikan komentar resmi terkait serangan ini.
Zelensky menegaskan bahwa warga setempat setiap minggu menerima bantuan kemanusiaan di lokasi tersebut, sehingga Rusia tidak mungkin tidak mengetahuinya. Ia menilai serangan ini sebagai sinyal bahwa Rusia tidak menginginkan de-eskalasi, justru sebaliknya, memperluas agresi.
Dampak bagi masyarakat: Serangan ini memperburuk krisis kemanusiaan di Ukraina selatan, menghambat distribusi bantuan, dan meningkatkan risiko bagi relawan serta warga sipil. Masyarakat internasional didesak untuk merespons dengan tekanan lebih besar terhadap Rusia, sementara warga lokal semakin terjepit di tengah konflik yang tak kunjung usai.