Di tengah kabar suram tentang menurunnya populasi satwa liar global hingga 73 persen dalam 52 tahun terakhir, kisah gorila gunung di Uganda menawarkan secercah harapan nyata. Populasi primata ikonik ini kini melampaui 1.100 ekor, tersebar di Uganda, Rwanda, dan Republik Demokratik Kongo. Padahal, pada dekade 1980-an, hewan ini berada di ambang kepunahan.
Keberhasilan ini bukan datang tiba-tiba. Butuh kerja keras selama puluhan tahun yang melibatkan perlindungan langsung, manajemen berbasis ilmu pengetahuan, serta dukungan komunitas lokal. Di sekitar Taman Nasional Bwindi, ekonomi warga ikut bergerak berkat keberadaan gorila. Mulai dari penjualan ukiran kayu hingga penyediaan akomodasi bagi 40.000 wisatawan per tahun yang rela membayar 800 dolar AS untuk melihat dari dekat.
Kisah gorila gunung ini bukan satu-satunya. Laporan Living Planet 2024 dari WWF juga mencatat pemulihan populasi penyu hijau, tuna sirip biru, harimau, dan gajah Afrika Selatan. Kerja sama internasional, seperti komitmen negara-negara Asia untuk melindungi harimau, berhasil menaikkan populasi harimau liar global lebih dari 70 persen antara 2010 dan 2025. Penyu hijau bahkan menjadi kura-kura laut pertama yang statusnya turun dari "terancam punah" menjadi "risiko rendah".
Meski begitu, para ahli mengingatkan bahwa keberhasilan ini tidak boleh membuat lengah. Penurunan populasi satwa liar secara global masih menjadi ancaman serius akibat eksploitasi berlebihan, perubahan iklim, polusi, dan spesies invasif. Kisah sukses ini menjadi bukti bahwa perubahan itu mungkin, asalkan ada kemauan dan tindakan nyata yang konsisten.