Ketegangan di perbatasan Lebanon memuncak setelah sebuah drone menjatuhkan granat tepat di atas posisi pasukan perdamaian PBB (UNIFIL). Insiden mengejutkan ini terjadi di tengah rentetan serangan Israel di wilayah Lebanon yang dilaporkan telah menewaskan dua orang, sekaligus melanggar kesepakatan gencatan senjata yang ada.
Kementerian Kesehatan Lebanon pada Jumat (waktu setempat) melaporkan satu orang tewas akibat 'serangan musuh Israel' yang menghantam sebuah kendaraan di Mansuri, Lebanon selatan. Malam sebelumnya, serangan di kota Mayfadun juga merenggut nyawa satu orang. Israel mengklaim korban di Mayfadun merupakan anggota Hezbollah yang dituduh terlibat dalam upaya pembangunan kembali infrastruktur kelompok tersebut.
Sebelumnya, pada Kamis, militer Israel juga melancarkan beberapa serangan di wilayah Bekaa, Lebanon timur, setelah mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga setempat. Rentetan insiden ini menambah panjang daftar pelanggaran gencatan senjata dengan Hezbollah yang seharusnya berlaku sejak akhir November 2024, dan telah menyebabkan ratusan korban.
Pasukan perdamaian PBB di Lebanon selatan (UNIFIL) segera meminta militer Israel untuk menghentikan tembakan menyusul insiden drone yang menjatuhkan granat pada pasukan mereka. Belum ada konfirmasi apakah granat tersebut meledak atau tidak. UNIFIL menegaskan bahwa aktivitas semacam ini sangat membahayakan warga sipil dan pasukan perdamaian, serta jelas-jelas melanggar Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701.
UNIFIL sendiri didirikan pada tahun 1978 setelah invasi Israel ke Lebanon selatan, dengan mandat yang diperluas pasca perang 2006 antara Israel dan Hezbollah, berdasarkan Resolusi 1701. Lebih dari 10.000 pasukan perdamaian ditugaskan untuk memantau penghentian permusuhan dan mendukung kehadiran tentara Lebanon di selatan Sungai Litani. Namun, Dewan Keamanan PBB pada Agustus lalu memutuskan untuk mengakhiri mandat UNIFIL pada 31 Desember 2026, diikuti rencana penarikan bertahap.
Di sisi lain, Lebanon kini menghadapi tekanan kuat dari Amerika Serikat dan Israel untuk melucuti Hezbollah. Para pemimpin Lebanon khawatir Israel dapat meningkatkan serangan secara drastis di negara yang telah babak belur akibat konflik ini, demi mendesak mereka menyita persenjataan Hezbollah dengan lebih cepat.