PM INGGRIS AKUI RUSIA CAMPURI BREXIT 2016 - Berita Dunia
← Kembali

PM INGGRIS AKUI RUSIA CAMPURI BREXIT 2016

Foto Berita

London, Inggris — Perdana Menteri Inggris, Andy Burnham, membuat guncangan besar di dunia politik internasional. Dalam wawancara dengan podcast The Rest Is Politics yang dirilis Minggu (22/6), ia secara terang-terangan menyatakan bahwa Rusia terbukti mencampuri referendum Brexit 2016. Ini menjadi momen pertama kalinya seorang pemimpin tertinggi Inggris mengakui secara publik adanya intervensi asing dalam keputusan bersejarah tersebut.

Burnham mengaku telah mengajukan pertanyaan langsung begitu dirinya masuk ke Downing Street. "Saya bertanya, apakah ada intervensi dari Rusia dalam referendum 2016? Dan saya mendapat jawaban yang jelas: ya, ada," ujarnya. Meski begitu, ia tidak membeberkan bukti spesifik atau rincian intelijen di balik klaim tersebut.

Menurutnya, pengakuan ini penting untuk dicatat dalam sejarah resmi. Ia juga menyebut bahwa informasi ini bisa membantu pemilih di Jerman dan Prancis agar lebih waspada terhadap pola politik yang didalangi musuh-musuh negara. Burnham bahkan mengaku telah membahas potensi keterkaitan Rusia dengan partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) saat bertemu Kanselir Jerman, Friedrich Merz, pekan lalu di Berlin.

Sebelumnya, dalam pidato di Sidang Umum PBB September lalu, Burnham juga mengecam upaya Rusia yang mencoba mengintervensi pemilihan umum Inggris 2019. Laporan Komite Intelijen dan Keamanan Parlemen tahun 2020 mengungkap bahwa pemerintah Inggris saat itu gagal melakukan asesmen mendalam terkait campur tangan Rusia di referendum 2016. Namun, laporan tersebut mengonfirmasi bahwa Rusia memang terlibat dalam referendum kemerdekaan Skotlandia 2014.

Rusia sendiri konsisten membantah semua tuduhan ini. Kremlin menuduh Inggris sedang dilanda "histeria anti-Rusia" dan menegaskan tidak pernah mencampuri urusan demokrasi negara lain. Di sisi lain, Burnham baru-baru ini juga mendesak Inggris untuk mempertimbangkan kembali hubungan dengan Uni Eropa, termasuk opsi bergabung kembali, karena Brexit dinilai gagal mewujudkan janji "mengambil kendali" dan justru melemahkan ekonomi serta kebijakan imigrasi Inggris.

Analisis Dampak: Pengakuan ini berpotensi memperkeruh hubungan diplomatik London-Moskow yang sudah tegang akibat perang Ukraina. Bagi masyarakat Inggris, ini menjadi pukulan telak bagi legitimasi hasil Brexit 2016, memicu pertanyaan ulang tentang kedaulatan dan keamanan demokrasi mereka. Sementara di Eropa, pernyataan ini bisa menjadi alarm bagi negara-negara yang menghadapi kebangkitan partai sayap kanan pro-Rusia, seperti AfD di Jerman dan Rassemblement National di Prancis, menjelang pemilu-pemilu mendatang.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook