Jelang pemilihan sela (midterms) Amerika Serikat, posisi Presiden Donald Trump kembali berada di zona merah. Survei terbaru Reuters/Ipsos menunjukkan tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump hanya menyentuh 32 persen. Angka ini terbilang sangat rendah dan hanya naik satu poin dari survei dua minggu sebelumnya.
Yang lebih menarik, elektabilitas Partai Republik ikut terpuruk. Saat ditanya pilihan mereka di bilik suara, 46 persen responden memilih kandidat Demokrat, sementara hanya 38 persen yang memilih Republik. Meski nama Trump tidak tercantum di surat suara, ia sudah berkeliling kampanye hampir sebulan penuh untuk mendongkrak suara partainya. Bahkan, Trump mengingatkan pendukungnya bahwa kekalahan Republik bisa berujung pada upaya pemakzulan (impeachment) untuk ketiga kalinya.
Penurunan popularitas ini diduga kuat buntut dari perang AS-Israel melawan Iran yang meletus sejak 28 Februari. Konflik tersebut memicu lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM) dan memicu kekhawatiran inflasi di kalangan konsumen. Di sisi lain, Trump menutup kampanyenya dengan rapat umum di Lincoln Memorial Reflecting Pool, Washington DC. Ia justru banyak membahas proyek renovasi kota, termasuk rencana pembangunan 'Gerbang Kemenangan' yang menuai masalah hukum. Dalam pidatonya, Trump sempat mengakui bahwa presiden petahana biasanya kalah di pemilu sela, namun ia mengklaim sudah memberikan perlawanan maksimal.
Analisis Singkat: Merosotnya elektabilitas Trump menjadi alarm bahaya bagi Partai Republik yang berusaha mempertahankan kendali atas Kongres. Isu ekonomi dan harga energi ternyata lebih menyakitkan bagi kantong masyarakat dibanding isu politik identitas. Jika tren ini berlanjut, pemerintahan Trump berpotensi menjadi 'lame duck' alias kurang bertenaga di sisa masa jabatannya, dan agenda legislatifnya bisa macet total jika Demokrat menguasai parlemen.