JAKARTA - Raksasa bursa kripto dunia, Binance, langsung mengambil langkah darurat dengan menanggung seluruh kerugian akibat dugaan peretasan terbesar dalam sejarah. Insiden ini sempat membuat aktivitas transaksi lumpuh total sebelum akhirnya dibuka kembali pada Minggu (2/11).
Dalam laporan terbaru, Binance mencatat adanya gelombang penarikan dana (withdrawal) yang masif. Tercatat, ada sekitar $3,6 miliar atau setara Rp58 triliun aset yang ditarik nasabah dalam kurun waktu singkat setelah insiden tersebut. Meski begitu, pihak manajemen memastikan bahwa 95% aset yang hilang sudah berhasil diganti menggunakan dana cadangan perusahaan, dana asuransi futures, hingga treasury korporat.
Dugaan kuat mengarah kepada kelompok sindikat siber asal Korea Utara, TraderTraitor atau yang dikenal sebagai Lazarus Group. FBI pun turut turun tangan dengan merilis daftar alamat dompet kripto yang terlibat untuk memblokir pergerakan dana haram tersebut.
Analisis Dampak: Meski Binance menjamin keamanan dana pengguna dan likuiditasnya masih tergolong sehat (penarikan hanya 2% dari total aset kelolaan), insiden ini menjadi tamparan keras bagi industri kripto global. Masyarakat diimbau untuk lebih waspada terhadap keamanan dompet digital pribadi dan tidak mudah terpancing panic selling. Kepercayaan publik terhadap bursa terpusat (CeFi) kembali diuji, terutama terkait celah keamanan perangkat internal karyawan yang menjadi biang keladi awal peretasan.