PRANCIS LOKAL: GELOMBANG KANAN MENGUAT, PRESIDEN TERANCAM? - Berita Dunia
← Kembali

PRANCIS LOKAL: GELOMBANG KANAN MENGUAT, PRESIDEN TERANCAM?

Foto Berita

Pemilu lokal Prancis baru saja tuntas dan hasilnya menyisakan banyak pertanyaan. Putaran terakhir pemungutan suara ini, yang digelar setahun sebelum Pilpres Prancis, jadi cerminan awal lanskap politik Negeri Mode itu. Yang paling menyita perhatian adalah menguatnya suara partai sayap kanan ekstrem, National Rally (RN).

Meski tak mendominasi sekuat prediksi awal, National Rally (RN) berhasil menancapkan kuku di beberapa kota penting di selatan Prancis, termasuk Nice dan Toulon. Partai pimpinan Marine Le Pen ini tercatat memenangkan 24 dari 17 kota yang mereka kuasai sebelumnya, dan bahkan memimpin di 60 kota lainnya. Kemenangan ini jelas mengkhawatirkan banyak pihak, apalagi mengingat Nice dan Toulon berpeluang besar dipimpin wali kota dari sayap kanan ekstrem.

Situasi di Marseille tak kalah panas. Wali kota petahana Benoit Payan (kiri-tengah) harus berjuang keras menghadapi kandidat RN Franck Allisio dalam putaran kedua. Penarikan diri partai kiri France Unbowed (LFI) dari persaingan membuat hasil di Marseille makin sulit ditebak, memicu kekhawatiran kota besar itu bisa jatuh ke tangan sayap kanan.

Yang juga menjadi sorotan adalah angka partisipasi pemilih yang jeblok. Di putaran pertama, hanya 57 persen warga yang datang ke TPS, menjadikannya angka terendah kedua dalam sejarah Republik Kelima Prancis setelah pemilu 2020 yang terdampak pandemi COVID-19. Rendahnya minat memilih ini, terutama di kawasan pekerja, disebut-sebut menguntungkan National Rally. Kurangnya ketertarikan masyarakat, ditambah aturan pemilu yang baru dan dianggap rumit, serta persepsi bahwa hasilnya sudah bisa ditebak, disinyalir jadi penyebab utama.

Penguatan sayap kanan ini bukan sekadar data statistik, tapi alarm keras bagi politik Prancis. Ini menunjukkan adanya pergeseran sentimen publik yang bisa jadi penentu arah Pilpres tahun depan. Fenomena ini juga tak lepas dari gelombang populisme dan ketidakpuasan terhadap politik mainstream yang terjadi di banyak negara Eropa. Rendahnya partisipasi pemilih bisa diartikan sebagai krisis kepercayaan publik terhadap sistem demokrasi atau partai-partai mapan, yang pada akhirnya memberi ruang bagi kelompok alternatif, termasuk sayap kanan ekstrem, untuk meraih dukungan.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook