Demonstrasi besar di Tirana, Albania, berujung ricuh pada Sabtu lalu. Lebih dari 300 orangāgabungan pengunjuk rasa dan aparat kepolisianādilaporkan terluka dalam bentrokan paling panas dalam beberapa hari terakhir. Polisi terpaksa menembakkan gas air mata dan meriam air untuk membubarkan massa yang membludak.
Ribuan warga memenuhi jalanan setelah seruan aksi dari organisasi mahasiswa. Mereka tidak hanya menuntut perbaikan fasilitas sekolah yang memprihatinkan, tapi juga memprotes keras lonjakan biaya hidup. Situasi memanas ketika massa melempar batu dan menggulingkan tong sampah yang dibakar ke arah gedung Kementerian Pendidikan.
Otoritas setempat memperketat keamanan dengan melakukan pemeriksaan acak kendaraan yang masuk ke ibu kota. Sejumlah gedung pemerintah jadi sasaran amuk massa, dan puluhan demonstran diamankan polisi.
Gelombang protes ini sebenarnya sudah berlangsung sejak pertengahan Oktober. Pemicu awalnya adalah munculnya proyek hotel mewah yang dikaitkan dengan keluarga Presiden AS, Donald Trump. Namun, kemarahan publik kemudian melebar menjadi gerakan antikorupsi dan penolakan terhadap kenaikan harga, dengan desakan utama agar Perdana Menteri Edi Rama mundur.
Menariknya, PM Rama menuding ada aktor asing di balik kekacauan ini. Ia menuduh Rusia dan Iran berperan dalam menyebarkan hoaks di dunia maya. Sebagai gestur simbolis ajakan berunding, Rama sempat meletakkan bantal merah di depan kantor pemerintah. Sayangnya, massa justru membakar bantal-bantal tersebut, menandakan dialog sepertinya masih jauh dari kata sepakat.