JAKARTA - Gelombang kecaman terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu terus meningkat di benua Eropa. Namun, para analis menilai pemilu Israel yang akan digelar 27 Oktober mendatang tidak akan membawa perubahan berarti bagi nasib warga Palestina.
Selama ini, hubungan Eropa dan Israel memang sangat erat. Mulai dari kerja sama diplomatik, kompetisi sepak bola, ajang Eurovision, hingga industri pertahanan. Namun, semua itu berubah drastis setelah agresi militer Israel yang menghancurkan Gaza dan menelan lebih dari 74.000 korban jiwa.
Kemarahan publik Eropa kini terlihat nyata. Beberapa negara mulai menarik diri dari Eurovision, dan para pesepak bola menolak bertanding melawan tim Israel. Negara seperti Irlandia dan Spanyol paling vokal menyuarakan kecaman. Bahkan Perdana Menteri Irlandia, Micheal Martin, menyebut aksi Israel di Gaza sebagai aib bagi dunia. Sementara itu, Inggris yang notabene punya sejarah panjang dengan Israel, kini memberlakukan larangan impor barang dari permukiman ilegal dan menuduh Israel melakukan pembersihan etnis.
Ketegangan memuncak saat sekelompok pemukim Israel menyerang diplomat dari Belgia, Prancis, dan Polandia yang sedang mendampingi petani zaitun di Tepi Barat. Insiden ini memicu kemarahan internasional.
Pengamat Timur Tengah dari Chatham House, Yossi Mekelberg, memperingatkan jika Netanyahu kembali berkuasa bersama koalisi sayap kanan, kerusakan hubungan dengan Eropa bisa jadi tidak bisa diperbaiki. Status Netanyahu sebagai buronan Mahkamah Kriminal Internasional (ICC) juga menjadi ganjalan besar. Meski ada harapan dari kandidat lain seperti Gadi Eisenkot, para ahli meragukan adanya perubahan kebijakan signifikan yang bisa menghentikan penderitaan rakyat Palestina.