IRAN JADI BIDIKAN BARAT SAAT RUSIA PERANG DI UKRAINA - Berita Dunia
← Kembali

IRAN JADI BIDIKAN BARAT SAAT RUSIA PERANG DI UKRAINA

Foto Berita

Wacana Amerika Serikat mengincar sekutu Rusia seperti Iran kembali memanas, memicu perdebatan sengit di lingkaran pro-Ukraina di Barat. Idenya sederhana: jika sekutu Moskow melemah, maka Rusia juga akan terpuruk, terutama dalam perangnya di Ukraina.

Namun, logika ini, meski terdengar baru, sebenarnya punya gema sejarah yang kuat. Presiden AS Donald Trump, yang dulunya kerap mengkritik intervensi asing, kini disebut-sebut 'terinfeksi' demam penggulingan rezim. Situasi ini mengingatkan kita pada kebijakan 'ekspor revolusi' Uni Soviet di bawah Leon Trotsky di awal abad ke-20, yang mencoba menyebarkan pengaruh Bolshevik ke Eropa (Hungaria, Bavaria, Latvia) hingga Republik Sosialis Soviet Persia di Provinsi Gilan, Iran, pada 1920-an. Namun, upaya-upaya itu umumnya berumur pendek dan berakhir dengan kegagalan.

Kini, seabad berselang, Iran kembali jadi sasaran 'ekspor revolusi', kali ini didalangi oleh kalangan garis keras Amerika dan Israel. Mereka berambisi menciptakan gejolak internal di Iran, mirip dengan peristiwa 'Maidan' di Ukraina. Ironisnya, ancaman intervensi asing justru sering menjadi pilar terkuat rezim teokratis Iran, menyatukan rakyat di tengah gejolak domestik. Warga Iran sendiri belajar dari sejarah dan tak ingin negara mereka berakhir tragis seperti Suriah atau Libya akibat campur tangan asing.

Sejarah Iran di abad ke-20 adalah kisah panjang perlawanan konstan terhadap dominasi asing, termasuk dari Rusia atau Uni Soviet. Menariknya, kepentingan Soviet dan Barat bahkan pernah selaras di Iran, seperti dalam kudeta 1953 terhadap Perdana Menteri Mohammed Mossadegh, penolakan terhadap Revolusi Iran 1979, hingga dukungan terhadap Irak dalam Perang Iran-Irak. Baru di tahun-tahun akhir kepemimpinan Presiden Vladimir Putin, Teheran dan Moskow membentuk aliansi yang semakin erat. Kemitraan ini makin kentara saat Iran memasok teknologi drone krusial untuk Rusia di awal invasi besar-besaran ke Ukraina.

Ada kemiripan penting dalam lintasan sejarah antara Iran, Rusia, dan Tiongkok. Ketiganya adalah segelintir negara yang berumur panjang dan berhasil menghindari kolonisasi oleh kekuatan Barat di berbagai tahapan sejarah. Insting otoriter di negara-negara ini bisa dijelaskan oleh kebutuhan terus-menerus untuk mobilisasi menghadapi ancaman dari Barat. Meski begitu, peran Rusia dalam 'tiga serangkai' ini agak ambigu, mengingat mereka sendiri juga pernah menjadi salah satu kekuatan Eropa yang mencoba melakukan kolonisasi.


Bagikan berita ini:

WhatsApp Facebook