Jakarta, CNN Indonesia -- Partai Demokrat Amerika Serikat tengah bersiap menghadapi pemilihan sela (midterms) November mendatang dengan target ambisius: merebut kembali kendali DPR dan Senat. Namun, pertanyaan besarnya bukan sekadar soal strategi partai, melainkan apakah keunggulan mereka di sejumlah survei saat ini benar-benar didorong oleh popularitas partai, atau justru karena faktor eksternal yang menguntungkan.
Dalam diskusi tajam antara jurnalis senior Mehdi Hasan dan mantan pejabat senior Gedung Putih Neera Tanden, terungkap bahwa tingginya angka elektabilitas Demokrat saat ini lebih banyak disebabkan oleh merosotnya tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Donald Trump. Tanden, yang pernah menjabat sebagai penasihat senior di era Clinton, Obama, dan Biden, menyoroti bahwa Partai Demokrat masih menghadapi tantangan besar untuk mendefinisikan identitas mereka sendiri di mata pemilih.
Lebih lanjut, diskusi ini juga menyoroti pelajaran pahit dari kekalahan berturut-turut melawan Trump pada 2016 dan 2024. Para panelis, termasuk Danielle Moodie dan Reed Galen, mempertanyakan sejauh mana isu kebijakan luar negeri, khususnya terkait Israel, akan menjadi 'uji lakmus' yang menentukan kelayakan seorang kandidat di masa depan. Perdebatan ini mencerminkan kegelisahan internal partai tentang arah masa depan dan bagaimana mereka dapat menyatukan basis pemilih yang terfragmentasi.