Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengumumkan kemajuan signifikan dalam pembicaraan kesepakatan dagang dengan Amerika Serikat. Pengumuman ini muncul hanya dua hari sebelum pemilihan sela AS pada 3 November, momen krusial yang akan menentukan kendali Kongres.
Dalam pernyataannya di platform X, Carney menyebut telah melakukan pembicaraan yang baik dengan Presiden AS Donald Trump mengenai masa depan perdagangan kedua negara. Tim dari kedua belah pihak dijadwalkan bekerja dalam beberapa minggu ke depan untuk merumuskan hasil konkret, melanjutkan diskusi konstruktif tentang kerangka kesepakatan yang saling menguntungkan.
Hubungan Ottawa dan Washington sempat memanas akibat perang dagang yang meningkat. Pada Agustus lalu, pembicaraan tingkat tinggi antara kedua negara gagal, dan Trump memberlakukan tarif 50 persen terhadap barang Kanada senilai 20 miliar dolar AS, atau sekitar 5,5 persen dari total ekspor Kanada. Kanada membalas dengan tarif setara pada produk baja, susu, peralatan rumah tangga, mesin pertanian, pulp dan kertas, serta elektronik dari AS.
Ketegangan dagang ini menjadi isu panas dalam pemilihan sela, terutama di negara bagian Michigan dan Maine, di mana kandidat Partai Republik mendapat tekanan terkait tarif yang merugikan bisnis lokal. Sementara itu, Kanada terus mendiversifikasi opsi perdagangan dengan menyambut tawaran Uni Eropa untuk menjadi anggota asosiasi. Carney menyebut proposal tersebut ambisius dan menggambarkannya sebagai aliansi unik, bukan keanggotaan EU konvensional.
Dampak bagi masyarakat: Jika kesepakatan tercapai, harga barang impor dari AS dan Kanada berpotensi stabil atau turun, terutama untuk produk baja, elektronik, dan pertanian. Sebaliknya, kegagalan negosiasi bisa memperpanjang perang tarif yang berujung pada kenaikan harga barang konsumsi dan tekanan inflasi di kedua negara. Bagi Indonesia, ketegangan dagang AS-Kanada perlu dicermati karena dapat menggeser arus perdagangan global dan memengaruhi harga komoditas ekspor.