Hasil exit poll pemilihan legislatif Israel menunjukkan tidak ada satu pun blok partai yang berhasil meraih mayoritas mutlak di parlemen (Knesset) yang beranggotakan 120 kursi. Blok koalisi yang dipimpin Partai Likud milik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu diproyeksikan hanya mengantongi 50 kursi, sementara blok oposisi yang digalang Partai Yashar pimpinan mantan Kepala Staf Militer Gadi Eisenkot diperkirakan meraih 52 kursi.
Karena syarat untuk membentuk pemerintahan adalah 61 kursi, kedua blok sama-sama kekurangan suara. Kondisi ini membuka peluang bagi partai-partai yang dipimpin komunitas Arabâyang tidak tergabung dalam dua koalisi besar tersebutâuntuk menjadi penentu arah pemerintahan. Partai Arab diproyeksikan meraih 18 kursi, menjadikan mereka sebagai 'kingmaker' jika ada pihak yang bersedia berkoalisi.
Meski begitu, proses pembentukan pemerintahan masih panjang. Setelah hasil resmi diumumkan pada 4 November mendatang, Presiden Isaac Herzog akan menunjuk kandidat yang dianggap paling berpeluang membentuk pemerintahan. Kandidat tersebut memiliki waktu 28 hari, dengan opsi perpanjangan 14 hari, untuk melakukan negosiasi intensif dan tawar-menawar kursi menteri.
Di kubu oposisi, Yair Lapid menyebut hasil ini sebagai 'kekalahan telak' bagi Netanyahu, sementara Menteri Luar Negeri Gideon Saar dari Likud menilai euforia oposisi terlalu dini karena Likud masih menjadi partai terbesar. Analis politik menilai blok Netanyahu memang melemah, tetapi belum tentu berakhir. Jika jalan buntu berlanjut, Netanyahu berpotensi tetap menjabat sebagai perdana menteri sementara (caretaker) selama proses negosiasi alot berlangsung.