JENEWA – Dunia menghela napas lega setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan gencatan senjata dan membuka negosiasi 60 hari. Namun, analis memperingatkan bahwa 'cincin' pernikahan damai sejati belum juga meluncur di jari manis.
Kesepakatan yang diumumkan pada Senin (28/2) ini mengakhiri lebih dari 100 hari perang yang dipicu oleh serangan AS-Israel ke Teheran. Isi utama perjanjian yang akan ditandatangani di Jenewa pada Jumat ini masih dirahasiakan, namun bocoran dari kantor berita Iran, Mehr News, menyebutkan beberapa poin krusial.
Pertama, Iran dan AS sepakat untuk menghentikan permusuhan dan memulai proses negosiasi selama 60 hari. Kedua, dalam periode itu, $24 miliar aset beku Iran akan dicairkan. Ketiga, isu paling sensitif—program nuklir Iran dan stok 440 kg uranium yang diperkaya tinggi—baru akan dibahas dalam dua bulan ke depan. Sementara itu, tuntutan AS soal program rudal Iran dan dukungannya pada kelompok proksi di kawasan justru dihapus dari agenda.
Akibatnya, kesepakatan ini hanya mengakhiri perang untuk sementara, tetapi menunda semua pertikaian utama yang memicu konflik. "Tidak ada satu pun hal substantif yang dinegosiasikan soal nuklir," kata Maneli Mirkhan, penasihat strategis urusan Iran dan global. "Memorandum ini hanya kerangka untuk membuka negosiasi, bukan hasilnya."
Dampaknya langsung terasa: negara-negara Teluk bernapas lega, Lebanon mendapat secercah harapan meski masih diduduki Israel, dan pasar global menyambut positif pembukaan kembali Selat Hormuz yang menurunkan harga minyak. Namun, tantangan politik justru lebih besar dari masalah teknis. Inti persoalan tetap sama seperti tiga dekade terakhir: apakah Iran boleh terus memperkaya uranium, seberapa ketat inspeksi internasional, dan kapan sanksi benar-benar dicabut.