Pinggiran kota Manchester, Gorton dan Denton, mendadak menjadi sorotan utama. Bukan karena gemerlapnya, melainkan karena di sinilah pertarungan sengit masa depan politik Inggris akan ditentukan. Pada 26 Februari mendatang, sebuah pemilihan sela parlemen akan digelar. Hasilnya? Dinilai bisa mengguncang Westminster.
Lebih dari 80.000 warga Gorton dan Denton kini berada di pusat pertempuran ini. Wilayah ini dianggap sebagai cerminan mini (mikrokosmos) dari kondisi politik Inggris modern. Dukungan untuk partai-partai sentris seperti Partai Buruh (Labour) dan Konservatif (Conservatives) terus merosot, sementara partai-partai sayap, seperti Partai Hijau (Green Party) dan Reform UK yang berhaluan kanan, justru menunjukkan peningkatan signifikan dalam survei.
Para analis politik menyebut, suara komunitas Muslim setempat memegang peranan kunci dalam menentukan pemenang. Persaingan pun diprediksi sangat ketat. Walaupun bursa taruhan menunjukkan Partai Hijau sedikit unggul, posisi mereka masih jauh dari aman. Partai Buruh dan Reform UK juga tak mau kalah, saling sikut untuk merebut simpati pemilih.
Secara nasional, Partai Buruh yang baru saja memenangkan suara mayoritas pada 2024 kini justru kehilangan dukungan besar. Ini akibat serangkaian perubahan kebijakan mendadak (U-turn) dan beberapa skandal yang menerpa. Sementara itu, Partai Konservatif, sebagai oposisi tradisional, masih terbebani oleh citra kekacauan politik selama bertahun-tahun ketika mereka berkuasa. Keduanya kini berjuang keras, baik di tingkat lokal maupun nasional.
Partai Hijau dan Reform UK jelas diuntungkan dari situasi ini. Di Gorton dan Denton, pertarungan antara Buruh dan Reform sangat sengit. “Partai Hijau saya rasa akan memecah suara Buruh,” ujar Usman Khan, salah satu warga setempat, kepada Al Jazeera. Bagi Partai Hijau, pemilihan ini adalah kesempatan emas untuk membuktikan momentum mereka. “Kemenangan di Gorton dan Denton akan menunjukkan bahwa Partai Hijau bisa menang di mana saja di negara ini,” kata Hannah Spencer, kandidat dari Partai Hijau.
Sementara itu, Partai Buruh mencoba memposisikan diri sebagai satu-satunya alternatif realistis menghadapi Reform UK yang berpandangan anti-imigrasi. “Banyak yang dipertaruhkan dalam pemilihan ini. Ini adalah pilihan antara persatuan dan perpecahan,” kata Stogia, kandidat Partai Buruh, seraya berargumen bahwa memilih Partai Hijau justru akan menguntungkan Reform UK.
Namun, Partai Buruh lokal juga punya masalah internal. Pemilihan sela ini dipicu oleh pengunduran diri anggota parlemen sebelumnya, Andrew Gwynne, dengan alasan kesehatan. Tapi, pengunduran diri itu terjadi tak lama setelah ia diduga terlibat skandal di internal Partai Buruh tahun ini. Ironisnya, Partai Buruh juga memblokir pencalonan Wali Kota Manchester yang sangat populer, Andy Burnham, yang dianggap sebagai rival potensial. Rangkaian kejadian ini dilihat sebagai pola kelemahan yang terus-menerus menggerogoti Partai Buruh.
Dampak dan Analisis:
Pertarungan di Gorton dan Denton bukan sekadar memperebutkan satu kursi parlemen. Ini adalah indikator penting pergeseran selera politik di Inggris. Masyarakat tampaknya mulai jenuh dengan partai-partai tradisional dan mencari opsi baru yang lebih relevan dengan tantangan saat ini. Suara minoritas, khususnya Muslim, terbukti menjadi faktor penentu yang tidak bisa diabaikan. Jika Partai Buruh dan Konservatif terus kehilangan pijakan di wilayah kunci seperti ini, peta politik Inggris bisa berubah drastis, membuka jalan bagi dominasi partai-partai sayap. Hasil pemilihan ini akan menjadi “ramalan” masa depan politik Inggris, apakah akan menuju persatuan atau justru perpecahan yang lebih dalam.