Pakistan kembali unjuk gigi di panggung diplomasi global. Negara yang pernah menjadi jembatan rahasia antara Amerika Serikat dan China pada 1971 ini, kini ditugaskan lagi mengemban misi berat: menyampaikan proposal gencatan senjata 15 poin dari AS untuk Iran. Peran krusial Islamabad ini dikonfirmasi langsung oleh Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, pada 25 Maret, dan juga diamini oleh negosiator utama AS, Steve Witkoff. Turki dan Mesir pun turut memberikan dukungan diplomatik dalam upaya meredakan ketegangan.
Manuver Pakistan ini terjadi di tengah gejolak Timur Tengah yang berpotensi menyeret kawasan ke dalam konflik berskala lebih besar. Ancaman serangan ke pembangkit listrik Iran oleh AS, yang disampaikan pekan lalu, sempat ditunda dua kali. Sumber berita menyebut penundaan ini atas permintaan dari pemerintah Iran, meski Teheran masih menyangkal adanya negosiasi langsung.
Bukan kali pertama Pakistan ambil bagian dalam "judi" diplomasi berisiko tinggi. Selain memfasilitasi pertemuan bersejarah Nixon-Mao yang mengubah peta geopolitik dunia, Pakistan juga berperan kunci dalam Perjanjian Jenewa yang mengakhiri pendudukan Soviet di Afghanistan pada 1980-an, serta membantu tercapainya Perjanjian Doha 2020. Bahkan, secara konsisten mereka berupaya mendamaikan Arab Saudi dan Iran.
Sejak ketegangan memuncak, Perdana Menteri Shehbaz Sharif diketahui telah intensif berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Panglima Militer Asim Munir juga dilaporkan telah berbicara langsung dengan pemimpin AS. Kedua tokoh Pakistan itu juga terbang ke Arab Saudi, sekutu penting yang juga menghadapi serangan dan memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan Pakistan.
Naghmana Hashmi, mantan Duta Besar Pakistan untuk China, menyoroti bahwa di balik sorotan konflik, Pakistan punya benang merah konsisten berupa upaya negara itu untuk menggunakan posisi geografis dan ikatan dunia Muslimnya sebagai daya tawar diplomatik demi perdamaian. Keberhasilan mediasi ini akan sangat menentukan stabilitas kawasan, bahkan global. Potensi eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga bisa memicu krisis energi dan ekonomi global. Oleh karena itu, peran diplomatik Pakistan kini menjadi salah satu kunci penting untuk mencegah skenario terburuk.