Kandidat presiden oposisi Uganda, Bobi Wine, dikabarkan menghilang secara paksa dari kediamannya. Partai politiknya, National Unity Platform (NUP), mengklaim Wine dijemput paksa oleh tentara menggunakan helikopter dan dibawa ke lokasi yang tidak diketahui. Insiden ini terjadi sehari setelah pemungutan suara dalam pemilihan umum yang diwarnai ketegangan dan pemadaman internet di seluruh Uganda.
Kejadian ini menambah panas situasi politik Uganda. Bobi Wine, seorang penyanyi yang beralih jadi politisi, adalah penantang utama Presiden petahana Yoweri Museveni. Museveni, yang telah berkuasa hampir empat dekade, berambisi memperpanjang masa jabatannya. PBB sendiri menyebut kampanye pemilu kali ini diwarnai "penindasan dan intimidasi yang meluas".
Hingga kini, belum ada komentar resmi dari pemerintah Uganda terkait keberadaan Wine. Pemadaman internet yang diberlakukan selama dan setelah pemilu semakin menyulitkan upaya pencarian informasi. Seorang pejabat NUP yang dihubungi Al Jazeera hanya bisa mengonfirmasi bahwa "orang-orang berseragam militer dan agen keamanan melompati pagar" rumah Wine, namun tidak bisa memastikan apakah Wine saat itu ada di rumah atau sudah dibawa pergi. Pihak militer maupun polisi Uganda belum bisa dimintai keterangan.
Sebelumnya, Wine sempat menuding adanya "kecurangan masif" dalam penghitungan suara melalui unggahan media sosial. Ia juga menyerukan rakyat Uganda untuk "bangkit dan menolak rezim kriminal". Tuduhan ini muncul di tengah dugaan pemerintah Museveni melakukan penindakan keras terhadap politisi oposisi dan pendukung mereka selama bertahun-tahun.
Hasil sementara menunjukkan Museveni unggul jauh. Komisi Pemilihan Umum melaporkan Museveni meraih 73,7 persen suara, jauh meninggalkan Wine yang hanya mendapatkan 22,7 persen, dari sekitar 81 persen suara yang sudah dihitung. Namun, di kota Butambala, sekitar 55 km barat daya Kampala, kekerasan pecah setelah pemungutan suara, menewaskan sedikitnya tujuh orang menurut polisi, atau 10 orang menurut legislator oposisi Muwanga Kivumbi. Kivumbi, yang juga anggota NUP, mengklaim pasukannya menyerang pendukung oposisi yang berkumpul di rumahnya.