Konflik berkepanjangan antara Pasukan Bersenjata Sudan (SAF) dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) yang meletus sejak April 2023 telah menciptakan krisis kemanusiaan yang mengerikan. Data dari para pekerja bantuan mencatat korban tewas mencapai 200.000 jiwa, sementara 13 juta orang terpaksa mengungsi dari rumah mereka. Kondisi ini diperparah dengan ancaman kelaparan yang meluas di berbagai wilayah negara tersebut.
Kisah pilu datang dari Aisha Adam, seorang perempuan 50 tahun yang harus mengungsi ke Port Sudan bersama cucu yatim dan keponakannya. Ia mengaku menerima bantuan yang semakin menipis di kamp pengungsian. Jika sebelumnya ia mendapat bantuan dari berbagai organisasi, kini ia harus berjualan kue gorengan tradisional (zalabia) dan teh di pasar untuk bertahan hidup. Ia mengaku hanya menerima bantuan berupa uang tunai sekitar Rp900 ribu dan 12 kg tepung dalam beberapa kesempatan terakhir.
Peringatan serius datang dari Departemen Luar Negeri Amerika Serikat pada 27 Oktober lalu. Mereka menyoroti penurunan drastis ketersediaan pangan dan risiko kelaparan dalam beberapa bulan ke depan. Klasifikasi Keamanan Pangan Terpadu (IPC) juga telah mengeluarkan peringatan serupa, menuntut tindakan darurat segera untuk mencegah bencana kemanusiaan yang lebih besar.