Mutare, Zimbabwe β Nasib pilu dialami para perempuan di pedesaan Zimbabwe yang mengandalkan e-becak (e-tricycle) untuk mencari nafkah. Alih-alih mendapat kemudahan, mereka justru dihantam biaya registrasi dan lisensi tahunan yang mencapai hampir 500 dolar AS (sekitar Rp8 juta), jauh di atas kemampuan mereka yang mayoritas adalah ibu tunggal dan janda.
Daires Mutamangira, salah satu penerima manfaat program e-becak bernama 'Hamba', menjadi korban razia polisi lalu lintas bulan lalu saat mengantar pelanggan di pinggiran kota. Petugas mendenda dirinya sebesar 15 dolar AS karena tidak bisa menunjukkan surat registrasi dan SIM. βSaya tidak menyangka mereka akan setega itu, padahal saya hanya beroperasi di pinggiran pusat perbelanjaan, jauh dari jalan raya,β ujarnya kepada Al Jazeera.
Padahal, e-becak bertenaga baterai lithium dengan kecepatan maksimal 25 km/jam ini diperkenalkan untuk memberdayakan perempuan di daerah terpencil seperti Hauna dan Chipinge. Selain sebagai alat transportasi barang pertanian seperti pisang dan tomat, kendaraan ini juga kerap difungsikan sebagai ambulans darurat untuk mengantar ibu hamil atau warga sakit ke rumah sakit, mengingat minimnya ambulans di sana.
Namun, kebijakan baru yang mulai diterapkan pada Februari 2025 membuat polisi tiba-tiba gencar menyita e-becak milik para perempuan. Biaya operasional yang membengkak dan tekanan dari aparat kini mengancam program pemberdayaan ekonomi yang sempat memberi harapan. Mutamangira sendiri mengaku bisa meraup untung 250 dolar AS per bulan dari usaha ini, yang menjadi tumpuan keluarganya setelah suaminya menganggur. βEnak rasanya menjadi perempuan yang bisa memberi kontribusi finansial. Saya dihormati suami karena tidak hanya diam di rumah,β katanya.
Analisis: Kebijakan ini menunjukkan celah besar dalam program pemberdayaan berbasis energi hijau di negara berkembang. Alih-alih mendukung transisi energi dan kemandirian ekonomi perempuan, birokrasi dan pungutan liar justru menjadi batu sandungan. Jika tidak segera direvisi, Zimbabwe berisiko mematikan sektor informal yang menjadi tulang punggung masyarakat desa.