Badai di kancah diplomasi kembali menyelimuti hubungan trans-Atlantik. Presiden AS Donald Trump menuai kecaman keras setelah melontarkan pernyataan kontroversial mengenai kontribusi sekutu NATO dalam perang di Afghanistan. Komentarnya yang menyebut pasukan Eropa 'agak menjauh dari garis depan' dianggap 'menghina' dan 'mengerikan' oleh sejumlah pemimpin, termasuk Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, membangkitkan kembali ketegangan yang sebelumnya dipicu oleh ancaman tarif atas isu Greenland.
Komentar pedas Trump ini dilontarkan kepada stasiun TV Fox News, di mana ia juga mempertanyakan kesiapan NATO untuk mendukung AS jika dibutuhkan. 'Kami tidak pernah membutuhkan mereka, kami tidak pernah benar-benar meminta apa pun dari mereka,' ujarnya saat berbicara di sela-sela Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss. Pernyataan ini sontak memicu gelombang kemarahan kolektif di seantero Eropa, yang kesabarannya terhadap Trump nampaknya mulai menipis.
Perdana Menteri Inggris Keir Starmer tak tinggal diam. Ia menyarankan agar Trump meminta maaf atas klaimnya tersebut. Starmer secara langsung menghormati 457 personel Inggris yang gugur dan lebih dari 150.000 tentara yang bertugas di Afghanistan, menjadikan Inggris kontributor terbesar kedua setelah AS. Selain itu, banyak negara sekutu lain seperti Kanada (lebih dari 150 gugur), Prancis (90 gugur), Jerman, Italia, dan Denmark (44 gugur) juga menumpahkan darah dan tenaga dalam invasi yang dipimpin AS setelah serangan 11 September 2001, ketika klausul keamanan kolektif NATO, Pasal 5, pertama kali diaktifkan.
Ketegangan ini diperparah oleh ancaman Trump sebelumnya untuk mengenakan tarif pada beberapa negara Eropa yang menentang keinginannya mengakuisisi Greenland, wilayah semi-otonom Denmark. Meskipun Trump kemudian sedikit melunak setelah bertemu Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte untuk membahas kerangka kesepakatan keamanan Arktik, komentarnya tentang pasukan NATO di Afghanistan tetap menuai kritik tajam. Menteri Luar Negeri Belanda David van Weel menyebut pernyataan Trump tidak benar dan tidak sopan, sementara Menteri Pertahanan Polandia Wladyslaw Kosiniak-Kamysz menegaskan negaranya adalah sekutu yang andal dan teruji. Bahkan Pangeran Harry dari Inggris pun turut angkat bicara.
Gelombang kritik ini menunjukkan keretakan serius dalam hubungan trans-Atlantik, mengancam solidaritas NATO yang krusial bagi keamanan global. Komentar Trump berpotensi melemahkan semangat aliansi dan menciptakan ketidakpastian dalam menghadapi tantangan geopolitik yang semakin kompleks, terutama di tengah kebutuhan akan persatuan menghadapi ancaman bersama.