Pemilu sela Amerika Serikat tahun ini menjadi ajang pembuktian bagi Partai Republik di bawah bayang-bayang Presiden Donald Trump. Meski baru dua tahun menjabat, Trump menghadapi ujian politik yang berat karena rakyat AS saat ini lebih peduli pada isi dompet ketimbang politik.
Biaya hidup yang melonjak jadi momok utama. Harga pangan dan bahan bakar meroket tajam, dipicu oleh kebijakan tarif agresif Trump serta dampak perang dengan Iran yang tidak populer. Inflasi tercatat naik dari 3% menjadi 3,7%, sementara harga solar menembus rekor $6,52 per galon pada September lalu.
Dampaknya terasa nyata pada strategi kampanye. Partai Republik terpaksa menggelontorkan ratusan juta dolar untuk iklan di wilayah yang seharusnya aman, seperti Kansas dan Iowa. Langkah ini dianggap sebagai indikasi kepanikan karena basis massa mulai bergeser. Trump bahkan sampai memohon kepada pendukungnya agar menganggap pemilu ini sebagai referendum terhadap dirinya, meski namanya tidak ada di surat suara.
Analis politik menilai, dengan rating persetujuan yang merosot tajam, posisi Trump kini bukan lagi sebagai aset elektoral yang menguntungkan, melainkan beban politik yang bisa menjerumuskan partainya di bilik suara.