Irak kembali memanas! Beberapa serangan udara mematikan mengguncang wilayah utara Irak akhir pekan lalu, menewaskan sejumlah pejuang dan polisi. Kelompok paramiliter yang kini terintegrasi dalam militer Irak menuding Amerika Serikat dan Israel sebagai dalang di balik serangan tersebut. Insiden ini menegaskan kekhawatiran bahwa Irak kini makin terseret dalam pusaran konflik regional antara AS dan Iran.
Serangan yang terjadi Sabtu lalu menargetkan markas Popular Mobilization Forces (PMF) dekat Bandara Kirkuk, mengakibatkan tiga pejuang PMF dan dua polisi Irak gugur, serta melukai delapan lainnya. Tak hanya di Kirkuk, insiden serupa juga dilaporkan di Mosul, menewaskan dua anggota polisi Irak. Pihak PMF, yang dibentuk untuk melawan ISIS dan kini menjadi bagian dari angkatan bersenjata Irak, secara tegas menyebut serangan itu sebagai “tindakan pengkhianatan Zionis-Amerika”.
Al Jazeera melaporkan, Irak kini berubah menjadi “medan perang yang meluas” menyusul konflik AS-Israel melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari. Kondisi ini menempatkan pemerintah Baghdad dalam posisi yang sangat sulit. Mereka harus menjaga keseimbangan antara hubungannya dengan Amerika Serikat, mitra strategis dalam keamanan dan ekonomi, serta Iran, tetangga terbesar yang juga memiliki ikatan kuat.
PMF sendiri, meskipun secara struktural di bawah komando Baghdad, memiliki faksi-faksi yang loyal kepada Teheran. Kondisi dualisme loyalitas ini menjadi tantangan besar bagi stabilitas internal Irak, yang sebelumnya berhasil merangkul berbagai faksi ke meja perundingan. Namun, ketika konflik meluas ke Irak, pemerintah Baghdad kini seperti “berjalan di atas tali” yang tipis.
Selain serangan udara, aktivitas mencurigakan juga terjadi. Dua drone dilaporkan mengincar pangkalan udara AS dekat Erbil, meski berhasil dicegat sistem pertahanan C-RAM. Sebuah serangan drone juga menyasar kediaman Presiden Kawasan Kurdistan, Nechirvan Barzani, di Duhok. Perdana Menteri Pemerintah Regional Kurdistan, Masrour Barzani, mengecam keras insiden ini dan mendesak pemerintah federal bertindak tegas terhadap para pelaku. Presiden Prancis Emmanuel Macron pun turut menyatakan keprihatinan atas eskalasi kekerasan di Irak. Ini menunjukkan betapa gentingnya situasi di jantung Timur Tengah ini.